Tertidur Tengah Bermimpi

Seseorang yang lama tinggal di sebuah kota, tertidur; dan di dalam tidurnya melihat kota lain, yang penuh kebaikan dan keburukan; hingga kotanya semula hilang dari ingatannya.

Seharusnya, dia berkata pada dirinya sendiri, seperti ini: "Ini adalah kota yang baru, aku adalah seorang asing disini;"

Sebaliknya, dia membayangkan selalu tinggal di kota baru itu, dilahirkan dan dibesarkan disitu.

Apakah mengherankan, jika kemudian jiwa tak ingat lagi akan kampung-halamannya dan tanah kelahirannya?

Karena alam-dunia ini, bagaikan tidur, menyelimuti jiwa kita, bagaikan awan menyelimuti bintang.

Apalagi saat ia melangkahkan kaki ke berbagai kota dan debu yang menutupi matanya belum dibersihkan.

Lagipula dia belum berupaya keras, memurnikan hatinya; sampai hatinya itu dapat menatap masa lalu.

Bagaimana dia memasuki tataran alam material, dan dari situ melangkah memasuki tataran alam nabatiah

Lama dia tinggal di tataran alam nabatiah, disitu tak diingatnya lagi tentang hidupnya ketika tinggal di tataran alam material; karena sifat-sifat ke dua tataran alam itu yang saling bertentangan.

Dan ketika dia beranjak dari alam nabatiah ke tataran alam hewaniah, alam nabatiah pun tak lagi diingatnya.

Mungkin masih ada sedikit sisa kenangan, khususnya ketika tiba musim semi dan semerbak harum tetumbuhan.

Ini seperti kemelekatan bayi kepada ibunya, sang bayi tak paham bahwa rahasia dibalik hasratnya itu adalah agar dia mendapat cukup susu-ibu.

Seperti itulah kemelekatan murid pemula, yang keberuntungan jiwanya tengah muda dan memekar,[2] kepada guru pembimbingnya

Akal personal sang pejalan bersumber dari Akal Sejati: gerak dari bayangan pohon-diri sang pejalan bersumber dari gerak dahan Pohon Sejati.

Bayangan dan kepalsuan sang murid tanggal dalam diri Sang Guru: sehingga bagi Sang Guru jelas belaka apa yang dicari sang murid pemula itu, apa yang dihasratinya.

Takkan pohon kecil diri sang murid pemula bergerak tanpa gerakan cabang Pohon Sejati Sang Guru.

Adalah karena Rahmat, pertolongan, sang Pencipta, ketika jiwa dikembalikan ke tataran insaniah, naik dari tataran hewaniah.

Demikianlah kemajuan itu, bergerak naiknya jiwa: tataran demi tataran; sampai jiwanya jadi pandai, bijak dan kuat.

Tentang tataran-tataran jiwa yang telah dilaluinya, belum lagi diingat orang itu.

Juga belum diketahuinya ada kenaikan tingkat akal yang menanti di depannya.

Bahwa dia harus tinggalkan nalarnya yang rakus dan mementingkan diri sendiri, dan bahwa membentang di atasnya seratus-ribu jenis kecerdasan yang tak terbayangkan.

Walaupun kini dia tengah tertidur dan lupa akan masa lalunya, seorang pejalan sejati takkan dibiarkan terus dalam kondisi lupa akan dirinya sendiri.

Dia akan dibangunkan dari tidurnya itu, sedemikian rupa, sehingga nanti ketika terbangun dia akan mentertawakan kondisinya sekarang, yaitu saat tengah tertidur.

Dia akan berkata sendiri,"Bagaimana bisa aku merasa sesedih itu?

Bagaimana mungkin aku terlupa akan realitas yang sejati?

Bagaimana mungkin sampai tak kuketahui bahwa segala kesedihan dan penyakit itu karena aku tertidur; dan itu sebenarnya mimpi dan khayalan saja?"

Catatan:
[1] "Tertidur dan tengah bermimpi" adalah keadaan sebagian besar manusia. Dan baru terbangun (jiwanya) ketika mati.

[2] "... yaa kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan dari langit hujan yang sangat deras ke atasmu, dan Dia menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu ..." (QS Huud [11]: 52)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi IV: 3628-3653
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama