Rabb Dan Dunia Puisi Jalaluddin Rumi

Seorang pencari berkata kepada Sang Hakim: "Dia, yang pertolongan-Nya kita mohonkan, tentu mampu membuat perdagangan kita tak pernah rugi.

Dia yang yang mengubah api Namrud menjadi mawar dan pepohonan, tentu juga bisa membuat dunia kita ini jadi tanpa-api.[1]

Dia yang memekarkan mawar dari tengah kumpulan duri, tentu mampu mengubah musim dingin ini menjadi musim semi.

Dia yang membuat setiap cemara lurus dan bebas tentu kuasa mengubah sedih menjadi gembira.

Dia yang membuat ketiadaan menjadi keberadaan: takkan Dia direndahkan, jika ciptaan dibuat-Nya abadi.

Dia yang memberi raga suatu ruh, sehingga hiduplah ia; apa ruginya Dia jika dibuatnya kita tak perlu mati?

Mengapa Sang Maha Pemurah, tak menganugerahkan saja, semua yang diinginkan setiap hamba; tanpa mereka perlu susah-payah berusaha?

Dan mengapa tak dijauhkan-Nya, sang hamba yang lemah, dari kelicikan syahwatnya, dan dari godaan syaithan; yang selalu siap menyergap?

Sang Hakim menjawab: "Jika tiada perintah yang pahit, jika tiada beda baik dengan jahat, jika tiada beda batu dengan mutiara,

Dan jika tiada hasrat ragawi, tiada hawa-nafsu dan syaithan, dan tiada pukulan, pertempuran atau perang,

Lalu dengan nama atau gelar apa Sang Raja akan menyebut hambanya, wahai penanya yang lalai?

Bagaimana Dia akan menyebut: "Wahai hamba yang sabar, Wahai hamba yang tabah?"

Bagaimana Dia akan memanggil: "Wahai hamba yang pemberani, Wahai hamba yang bijak?"

Bagaimana akan terbentuk hamba yang sabar, hamba yang tulus-ikhlas, hamba yang lazim berinfak, tanpa kehadiran penyamun dan syaithan yang terkutuk?

Rustam dan Hamzah, atau tukang selingkuh, jadi tidak bisa dibedakan;[2] pengetahuan dan kebijaksanaan akan musnah, tak berarti.

Adanya pengetahuan dan kebijaksanaan itu untuk membedakan jalan lurus dengan jalan buntu: jika semua jalan sama saja, pengetahuan dan kebijaksanaan tak ada gunanya.

Apa menurutmu pantas, jika ke dua semesta ciptaan dihancurkan, untuk memenuhi hasrat jiwa rendah?[3]

Tentu saja aku paham bahwa engkau telah termurnikan, dan bukan lagi yang masih mentah; dan engkau tanyakan ini, semata untuk mengajari mereka yang masih kasar.

Kejamnya Sang Waktu dan semua derita yang mewujud itu lebih ringan daripada jarak kepada Rabb dan pengingkaran.

Karena derita itu akan berlalu, tetapi tidak demikian dengan jarak kepada Rabb.

Insan yang dianugerahi kebahagiaan sejati hanyalah mereka yang datang kepada-Nya dengan jiwa yang bangun dan mengenal-Nya."

Catatan:
[1] Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" (QS [21]: 69). Maksud bait ini, jika Dia berkehendak, tentu Tuhan berkuasa membuat hidup kita selalu sejuk dan nyaman tanpa ada ketetapan atau kejadian yang 'memanggang.'

[2] Rustam, pahlawan Persia, Hamza ibn ‘Abdul-Muttalib, paman dan salah satu pembela utama Nabi Muhammad SAW di masa awal dakwah Beliau. Tukang Selingkuh, sebuah istilah untuk mengecam para pencari awal, yang terkadang mencari Tuhan, terkadang mencari ciptaan.

[3] Kedua semesta: yang tampak dan tidak-tampak. Maksudnya, apakah pantas meniadakan saja ke dua semesta (yang didesain sebagai alat-didik pembentuk kesempurnaan insan) semata demi menjamin terpenuhinya selera kenyamanan hidup ragawi, sebagaimana dihasratkan para pecinta dunia.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 1739-1757
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama