Mencermati Ketiadaan Puisi Jalaluddin Rumi

Semua yang mempesonamu, pada wajah-wajah cantik, adalah Cahaya Sang Matahari terpantul pada kaca prisma.

Beragam corak kaca membuat Cahaya tampil beraneka-warna.

Ketika prisma kaca beraneka-warna tak lagi ada, barulah Cahaya tanpa-warna mempesonamu.

Bangunlah kebiasaan menatap Cahaya tanpa prisma kaca, sehingga ketika prisma kaca itu remuk, tak lagi engkau buta.

Selama ini engkau puas dengan pengetahuan yang kau dapat dari orang lain: matamu dapat memandang karena adanya cahaya lampu orang itu.

Dia mengambil lampu itu, agar kau ketahui bahwa engkau seorang peminjam bukan pemberi yang murah hati.

Jika semua pemberian itu telah engkau syukuri dengan sungguh-sungguh beramal, tak perlu kau tangisi kehilangan itu; karena Dia akan menggantinya seratus kali lipat.

Tetapi jika selama ini kau tak pandai bersyukur, kini saatnya meneteskan air mata darah, karena keunggulan jiwa dihapuskan dari mereka yang tak bersyukur.

Dia menghapus amal-amal kaum yang kufur;[1] kepada kaum beriman yang beramal shaleh diberikan-Nya kehidupan yang baik.[2]

Dilenyapkan-Nya timbangan rasa akan apa yang selayaknya didekatkan, atau dijauhi; begitu pula rasa terimaka-kasih dan kasih-sayang; sedemikian rupa, sehingga tak tertinggal jejaknya lagi.

Ketahuilah, sabda-Nya, "Dia hapuskan amal-amal kaum kaum yang kufur," menunjukkan hilangnya hasrat akan setiap obyek yang diinginkan, dari semua orang yang telah mencapai hasratnya itu di alam dunia ini.

Kecuali dari mereka yang beriman dan bersyukur, keberuntungan bersama dengan mereka.

Keberuntungan dari masa silam tak lagi dapat memberi kekuatan kepada pemiliknya.

Keberuntungan di masa depan lah yang dapat memberikan kebajikan.

Patuhilah perintah, "pinjamkanlah"[3] pinjaman yang baik kepada Rabb, dari harta dunia ini; dan akan kau jumpai seratus kali lipat ganjaran di hadapanmu.

Kurangilah barang sedikit makan dan minum-mu, dan akan kau dapati dirimu di tepi Telaga Kautsar.[4]

Tidaklah mungkin, "orang-orang yang memberi minum"[5] di Bumi ini, karena keimanan mereka, ditinggalkan oleh keberuntungan.

Rabb menggembirakan hati mereka, karena Dia akan memberikan kehidupan yang baik: Dia akan mengembalikan apa-apa yang dulu mereka senangi, setelah kematian mereka.

Dia bersabda, "Wahai Maut, telah kau musnahkan dunia mereka, kini kembalikanlah apa-apa yang telah kau ambil dari kaum yang pandai bersyukur itu."

Sang Maut ingin mengembalikan itu semua, tapi mereka tak mau menerimanya kembali, karena mereka telah dianugerahi kebangkitan kehidupan jiwa.

Mereka berkata, "Kami kaum yang bertaubat, telah kami lepaskan jubah kehidupan ragawi kami: takkan kami ambil kembali apa-apa yang telah kami korbankan.

Telah kami dapati ganjaran dari Rabb, tak ada satu hal duniawi pun yang setara dengan itu; kebutuhan, hasrat dan kepemilikan telah tanggal dari kami.

Kami telah timbul dari air gelap dan mematikan, telah kami capai anggur-murni al-Jannah, dan pancuran Telaga Kautsar.

Wahai Dunia, apa-apa yang telah kau tunjukkan kepada kaum yang lain: kekufuran, pengkhianatan dan kesombongan,

Kami tuangkan itu semua ke atas kepala kalian sebagai pembayaran, karena kami adalah para penyaksi kebenaran yang bejihad melawan kalian."

Menjadi jelas lah bagimu, bahwa Rabb yang Maha Kudus memiliki hamba-hamba yang siaga dan sigap,

Yang membongkar kemunafikan dunia, yang menegakkan kemah perang mereka di atas benteng pertolongan Ilahiah.

Para penyaksi itu akan kembali sebagai ksatria; mereka yang tadinya menjadi tawanan dunia, tampil meraih kemenangan.

Tegak kepala mereka di semesta tak-berwujud, seraya berkata, "Pandanglah kami, jika kalian tak buta sejak lahir."

Agar kau ketahui bahwa di semesta tak-berwujud terdapat banyak matahari; yang jika dibandingkan dengan mereka, mataharimu disini tak lebih dari satu bintang kecil.

Ketahuilah sahabat, semesta berwujud ini disimpan dalam semesta tak-berwujud. Sungguh mencengangkan bagaimana sesuatu itu disimpan dalam kebalikannya.

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati:[6] ketahuilah harapan dari penghambaan itu pada yang tak-berwujud.

Ketika menanam benih, gudang petani kosong; tidakkah ia gembira dan bahagia ketika berharap kepada yang tak-berwujud?

Yaitu ketika berharap bahwa tanamannya tumbuh dari ketiadaan.

Pahamilah ini, agar engkau sadari tentang kenyataan ruhaniah.

Setiap saat engkau berharap agar sesuatu datang padamu, dari semesta tak-berwujud: pemahaman dan persepsi ruhaniah, kebaikan dan kebahagiaan.

Tak diizinkan saat ini membongkar rahasia ini lebih terang lagi.

Singkatnya, semesta tak berwujud atau ketiadaan adalah bagaikan pabrik milik Rabb, yang dari situ terus menerus dihasilkan pemberian-Nya.

Rabb adalah yang Mengawali, yang menghasilkan segala sesuatu, tanpa memerlukan akar, tak pula memerlukan penunjang.

Catatan:
[1] QS Al Kahfi [18]: 105.

[2] QS An Nahl [16]: 97.

[3] QS Al Maidah [5]: 12.

[4] QS Al Kautsar [108]: 1.

[5] QS At-Taubah [9]: 19.

[6] QS Al An'am [6]: 95.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V: 988-1025
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post