Kembalilah Ke Langit Puisi Jalaluddin Rumi

Setiap saat, sebuah seruan dari langit menyapa inti jiwa sang lelaki pencari: Sampai kapan engkau melekat ke bumi, seperti buih. Naiklah ke langit!

Mereka yang jiwanya berat tetap lekat menempel bagai buih; hanya jika termurnikan ia dapat mengalir ke atas.

Jika kau tak terus-menerus mengaduk tanah-liatmu, airmu akan perlahan menjernih, dan buihmu tercahayai, maka sakitmu terobati.

Seperti obor, hanya lebih banyak asapnya daripada apinya, asapnya menyebar kesana kemari, sehingga ruang di dalam jasmani, tempat jiwa terpenjara, tak lagi bersinar.

Jika kau hilangkan asapnya kau dapat nikmati kembali nyala api obor; tempatmu di semesta ini dan semesta-semesta mendatang akan terterangi oleh cahayamu itu.

Jika kau menatap pada air keruh, tak kelihatan disitu rembulan atau langit; matahari dan rembulan menghilang ketika kegelapan menyelimuti udara.

Dari utara angin bertiup menyibak udara hingga jernih; datangnya pada fajar hari, usapannya melapangkan dada.

Tiupan ruhaniyah melegakan dada menyingkirkan semua kesedihan; biarkanlah nafas berhenti barang sejenak, agar fana' menggenggam, jiwa lebur dalam ketiadaan.

Sang Jiwa, warga asing pendatang di bumi ini, selalu rindu pada semesta ketiadaan; sambil heran mendapati jiwa hewaniyah begitu senang merumput di padang alam dunia.

Wahai Jiwa murni yang mulia, sampai kapan kau tinggal disini?

Engkaulah elang Sang Raja, kembalilah: penuhi isyarat panggilan Sang Penguasa.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 26.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arbery dalam Mystical Poems of Rumi 1, The University of Chicago Press, 1968.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post