Jebakan Melekat Puisi Jalaluddin Rumi

Tidakkah kau ingin bergabung bersama sepuluh sahabat Nabi yang telah menerima kabar gembira; mereka yang telah disucikan bagai emas murni.[1]

Dalam persaudaraan ditemukan kesempurnaan, karena seorang lelaki itu satu kesatuan dengan sahabat-sahabatnya.

Mereka akan bersama di alam ini dan di alam-alam berikutnya; inilah yang dimaksud dalam hadits dari Musthapa yang berakhlak sempurna.

(Ketika Beliau berkata) "Seorang lelaki itu bersama dengan orang yang dicintainya:" qalb itu tak terpisahkan dari sasaran cintanya.

Jangan mau tinggal di tempat yang ada umpan dan jebakannya: wahai mereka yang memandang orang lain hanya sebagai korban yang lemah; perhatikanlah, bagaimana kesudahan para pemangsa manusia.

Wahai mereka yang hanya bisa melihat kelemahan dari orang-orang lemah: mereka yang bergantung pada kebaikanmu; ketahuilah ada tangan lain di atas tanganmu.

Sungguh dungu, jika kau pandang orang lain lemah, padahal sebenarnya kau sendiri juga lemah.

Kau pandang dirimu seorang pemburu, sementara, pada saat yang sama, sebenarnya kau juga buruan.

Jangan sampai kau tergolong orang yang dinyatakan dalam ayat, "... Kami taruh dimuka mereka dinding, dan di belakang mereka dinding ..."[2] sehingga tak bisa kau lihat musuh, walaupun musuhmu itu nyata.

Kerakusan ketika berburu sering membuat orang tak waspada, tak sadar dirinya berbalik jadi buruan: saat mencoba memenangkan hati orang banyak malahan dia kehilangan qalb-nya sendiri.

Dalam pencarianmu, jangan sampai engkau lebih bodoh daripada burung: bahkan seekor pipit pun selalu menengok pada apa-apa yang ada "...di hadapan dan di belakangnya..."[3]

Saat ia menghampiri umpan, berkali-kali ditengoknya ke muka dan ke belakang.

(Seolah berkata) "Apakah ada pemburu tengah mengintai, dari depan atau belakangku? Apakah biji ini aman kumakan sekarang?"

Tidakkah kau pelajari kisah-kisah lampau tentang akhir cerita mereka yang jahat; tidakkah kau juga lihat di hadapanmu, kematian akan mendatangi sahabat dan kerabatmu?

Semua akah musnah, tanpa Rabb perlu menggunakan alat apa pun: Dia dekat kepadamu dimana pun engkau berada.

Jika Rabb menurunkan siksaan pada yang jahat, Dia tak memerlukan alat: sadarilah Rabb mengadili tanpa perlu bantuan sedikit pun.

Orang yang dulu mengejek "Jika Tuhan itu ada, maka dimanakah Dia" akan bersaksi akan adanya Dia, ketika menjalani siksa.

Orang yang berkata, "Ini hanyalah khayalan dan sihir," akan menangis sambil merintih, "Wahai Engkau yang Maha Dekat!"

Setiap orang ingin terhindar dari jebakan; tapi jarang yang menyadari bahwa jebakan itu melekat kepada semua hal yang berlebihan.

Patahkanlah pasak jebakan itu: hindarilah pahitnya derita karena memperturutkan hawa-nafsumu.

Telah kujelaskan kunci persoalan sesuai dengan tingkat pengertianmu: pahamilah dalam-dalam, dan jangan pernah kau palingkan lagi wajahmu dari Jalan Pertaubatan.

Putuskanlah tali jebakannya, yaitu rakus dan iri-dengki: ingatlah ayat, "pada lehernya ada tali dari sabut."

Catatan:
[1] Para sahabat Nabi yang telah menerima kabar dari Allah tentang tempat mereka dalam al-Jannah.

[2] QS YaaSiin [36]: 9.

[3] QS Al Baqarah [2]: 255.

[4] QS Al Lahab [111]: 5.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V: 744-764
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama