Jalan Kemerdekaan Puisi Jalaluddin Rumi

Ketika engkau berlindung kepada al-Qur'an milik Allah, engkau bergabung bersama jiwa para nabi.

Al Qur'an itu adalah penjelasan berbagai keadaan para nabi: mereka bagaikan ikan-ikan di dalam Laut Suci, Keagungan Ilahiah.

Tapi jika engkau membaca al-Qur'an sedangkan hatimu tak menerimanya, maka apa manfaatnya bagimu; seandainya pun engkau bertemu para wali dan nabi?

Jika hatimu menerimanya, ketika engkau membaca kisah para nabi, maka jiwamu bagaikan burung yang gelisah dalam sangkarnya.

Burung itu terpenjara dalam sangkar, jika ia tak mencari jalan keluar, itu semata-mata karena kebodohannya.

Jiwa-jiwa yang telah merdeka dari sangkar adalah milik para nabi, mereka lah yang pantas menjadi pembimbing.

Dari luar sangkar kita dengar suara mereka menyeru kepada ad-Diin, "Inilah Jalan kemerdekaanmu.

Melalui Jalan ini lah, telah merdeka kami dari sangkar sempit itu: tiada kemerdekaan kecuali melalui Jalan ini.[1]

Yaitu seyogyanya engkau merendahkan dirimu, sampai remuk; agar engkau dapat keluar dari penjara ketenaran."

Ketenaran duniawiah menghalangimu berjalan; ia bagai rantai pengikat yang amat kuat, lebih kuat daripada rantai besi.

Catatan:
1) Jalan Kemerdekaan, jalan pembebasan, menolong jiwa agar meraih kesejatiannya. "Jalan yang mendaki lagi sukar," untuk keluar dari negeri jasmaninya; untuk "melepaskan diri dari perbudakan" hawa-nafsunya sendiri, dengan cara "memberi makan" kepada mereka yang masih lemah "pada hari kelaparan," (yaitu kepada) "yang yatim dan berkerabat, atau yang miskin dan fakir." (QS Al-Balad [90]: 12-16)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi I: 1537-1546
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post