Engkaulah Puisi Jalaluddin Rumi

Sejak kumulai berjalan, Engkau lah tujuan, Engkau lah pemandu.

Ketika kucari hatiku, Engkau lah yang meremukkannya.

Ketika kucari kedamaian, Engkau lah yang mengayomi.

Ketika kupergi berjihad, Engkau lah pedangku.

Ketika kubelajar lebur, Engkau lah anggur dan manisan.

Ketika kudatangi taman itu, Engkau lah sang narsisus memekar.

Ketika kusampai ke tambang itu, Engkau lah sang merah delima.

Ketika kuselami samudera, Engkau lah mutiara di dasar.

Ketika kulintasi gurun, Engkau lah oase.

Ketika aku mengangkasa, Engkau lah bintang paling terang.

Ketika kutegak dengan berani, Engkau lah perisaiku.

Ketika kupingsan kebingungan, Engkau lah wewangian yang menyadarkan.

Ketika kuterjun dalam pertempuran, Engkau lah sang panglima pasukan.

Ketika kutiba di perjamuan, Engkau lah tuan-rumah, penghibur, sekaligus cangkir.

Ketika kumenulis, Engkau lah kertas, pena, sekaligus tinta.

Ketika kuterjaga, Engkau lah kesadaranku.

Ketika kutertidur, Kau masuki mimpiku.

Ketika kucari rima bagi puisiku, Engkaulah yang menyenandungkannya.

Gambaran apa pun yang kau coba lukiskan, Dia mengatasi itu.

Setinggi apa pun kau naik, Dia lebih tinggi daripada ketinggianmu.

Diamlah, dan taruhlah bacaanmu: biarkan Dia yang jadi kitabmu.

Diamlah, karena seluruh enam arah adalah Cahaya-Nya.

Dan ketika kau berhasil lewati seluruh arah, kau kan dapati Dia lah Penguasa semua arah.

Telah kupilih keridhaan-Mu diatas kesenanganku. Rahasiaku ini tetap kusimpan.

Wahai, matahari Tabriz yang mencengangkan, tak mungkin engkau tetap tersembunyi. Cemerlang cahayamu akan mewartakan kedudukanmu.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal no 2251.
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh: Jonathan Star, dalam Rumi -- In the Arms of the Beloved; Annemarie Schimmel, dalam I am Wind, You are Fire; William Chittick, dalam The Sufi Path of Love.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post