Adab Bersantap Puisi Jalaluddin Rumi

Sang Quthb itu bagaikan singa, berburu merupakan urusannya; yang lainnya -para pejalan- memakan sisa-sisanya.

Sejauh kemampuanmu, upayakanlah memuaskan sang Quthb, sehingga dia mendapat kekuatan dan memburu binatang-binatang buas.

Ketika dia sakit, mereka jadi tak ternafkahi, karena semua makanan yang disediakan bagi kerongkongan datang dari tangan sang Akal.

Meningat pengalaman ruhaniyah yang terjadi pada orang-orang lain hanyalah sisa-sisanya, maka camkanlah hal ini; jika hatimu juga mengidamkan hidangan ruhaniyah.

Dia bagaikan sang Akal, sedangkan para pejalan itu bagaikan anggota-anggota tubuh: pengaturan tubuh itu bergantung kepada sang Akal.

Kelemahan sang Quthb terletak pada tubuhnya, dan bukan bersifat ruhaniyah; kelemahan itu pada bahtera, bukannya pada Nuh.

Sang Quthb berputar mengedari dirinya sendiri, sementara di sekitarnya berputar benda-benda angkasa.

Ulurkanlah bantuan untuk memperbaiki jasmaninya, jadilah pelayannya yang terkasih, dan hambanya yang patuh.

Sejatinya, bantuan itu suatu keuntungan bagimu, bukan baginya; Allah telah bersabda: "Jika engkau menolong Allah, maka engkau akan ditolong."[1]

Catatan:
[1] QS Muhammad [47]: 7.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V: 2339-2347
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post