Wafatnya syekh san'ai Puisi Jalaluddin Rumi


"Syaikh San'ai telah wafat," seseorang berkata.Kematian seorang Syaikh seperti Beliau, bukanlah suatu hal remeh.

Bukanlah dia itu segumpal bulu yang melayang diterbangkan angin, bukanlah pula dia seonggok genangan yang beku di tengah musim dingin. Bukanlah dia seperti gigi sisir yang patah di tengah rambut. Bukanlah dia sebutir biji yang remuk di tanah.

Dia bagaikan sebongkah emas di tengah setumpuk debu. Sementara ke dua alam dinilainya setara sebiji jagung.

Dilepaskannya raganya kembali ke Bumi, dan saksikanlah jiwanya melayang naik ke al-Jannah.

Akan tetapi, ada Jiwa ke Dua, tiada seorang awam menyadarinya. Kubersaksi di hadapan Rabb, yang satu itu langsung bergabung dengan Sang Kekasih.

Apa yang semula bercampur, kini terpisah: anggur murni naik ke puncak ampasnya teronggok di dasar cawan.

Ketika tengah berada di perjalanan, semua orang bergerak bersama- warga Marv, Rayy, orang Kurdi dan Romawi. Tetapi, masing-masing lalu kembali ke kampung halamannya sendiri. Tak akan sutra halus tetap terikat kepada wol kasar.

Telah dicapainya tahapan pamungkas. Kini Sang Raja telah menghapus namanya dari buku berisikan daftar nama-nama.

Wahai Syaikh, kini, ketika telah engkau tinggalkan dunia ini, bagaimana kami dapat mencapaimu, kecuali dalam senyap.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Kulliyat-e Shams no 996, Badi-uz Zaman Furuzanfar (ed).
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star, In the Arms of the Beloved, hal 178

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post