Sang Kholilullah Menyembelih Bebek Unggas Pertama Penganggu Perjalanan Puisi Jalaluddin Rumi


Mereka yang waspada pendengarannya memperoleh cahaya, sedangkan para pecinta kegelapan itu bagaikan gerombolan tikus.

Mereka yang lemah penglihatan bagai kelelawar bagaimanakah mereka dapat berputar di sekeliling Lingkaran Keyakinan?

Perbedaan-pendapat dalam hal cabang-ranting yang rumit adalah rantai-pengikat yang memperbudak tabiat, yang kemudian menjadi gelap-buta kepada Agama yang Haqq.

Sepanjang manusia semacam ini, hanya mengandalkan geraman dan gonggongan dari kepandaian-jasmaniahnya sendiri, maka dia tidak dapat membuka mata qalb-nya kepada Sang Matahari.

Dia tidak akan membentangkan cabang-cabangnya ke angkasa seperti yang dilakukan pohon kurma: malahan bagaikan tikus dia menggali lubang ke dalam tanah.

Manusia semacam ini mempunyai empat penyakit yang menjajah hati: ke empat hal ini telah membentuk tiang-gantungan bagi Akal.

Wahai engkau yang akal qalb-nya menyala bagai Matahari engkaulah Sang Khalil zaman ini: bunuhlah ke empat unggasyang mengganggu Perjalanan,[1]

Karena ke empatnya, bagaikan gagak, telah mencungkil mata-akal dari kecerdasan.

Ke empat penyakit hati jasmaniah itu bagaikan unggas Sang Khalil: penyembelihan mereka dengan bismillah membuka jalan bagi kebangkitan jiwa.

Wahai Sang Khalil, untuk membebaskan yang baik dari yang buruk, potonglah leher mereka, sehingga kaki orang-orang ini dapat terlepas dari pagar yang mengurung mereka.

Engkau adalah 'yang-menyeluruh', dan mereka adalah bagian-bagian dari engkau: bukalah penjara, karena kaki mereka adalah kakimu.

Berkat engkau, seluruh alam disusun menjadi sebuah tempat yang berlimpah dengan ruh: suatu kekesatriaan yang menjadi landasan bagi seratus bala-tentara.

Sepanjang jasmani menjadi sangkar dari empat penyakit ini, maka mereka disebut empat unggas penyebab kerusakan. Jika engkau menghendaki kehidupan abadi bagi orang-orang ini, potonglah leher ke empat unggas kotor dan jahat itu,

Dan kemudian, kembalikan mereka dalam bentuk yang lain, sehingga setelah itu, tidak ada keburukan yang akan mereka lakukan.

Keempat unggas tak tampak yang mengganggu Jalan, telah menjadikan hati para manusia sebagai sarang mereka.

Karena dalam kisah ini, engkaulah, wahai Khalifah Allah, yang menjadi pemuka dari para pemilik qalb yang benar,

Sembelihllah hidup-hidup kepala ke empat unggas: abadikanlah makhluk-makhluk yang sesaat hidupnya itu.

Mereka adalah bebek, merak, gagak dan ayam-jantan; ini adalah ibarat dari penyakit-penyakit dalam jiwa manusia.

Bebek itu lambang dari kerakusan; ayam-jantan melambangkan syahwat; merak melambangkan hasrat-kemasyhuran; sementara gagak melambangkan cinta-dunia.

Burung gagak, sang cinta-dunia, berhasratkan angan-angan dan berharap keabadian atau umur-panjang.

Bebek itu lambang kerakusan, karena paruhnya selalu di tanah, mencari-cari apa-apa yang tersembunyi di tempat basah dan kering. Tenggorokannya tak pernah jeda sedikitpun: tiada ketentuan Ilahiah yang dijalankannya, kecuali perintah, "makanlah, engkau!"

Dia bagaikan perampok yang menggangsir rumah, dan cepat-cepat mengisi kantungnya,

Tanpa pilih-pilih, diisinya kantungnya dengan barang yang baik maupun yang buruk, batu-permata dan biji-kacang, Dijejalkannya yang basah dan yang kering ke dalam kantungnya, sebab dia takut ada musuh yang segera tiba.

Waktu mendesak, kesempatan terbatas, dia ketakutan: tanpa tunggu lagi, dibawanya semuanya secepat mungkin.

Tidak dimilikinya kepercayaan kepada Kemurahan-Nya, dia tidak percaya bahwa tidak akan ada musuh yang akan menghalanginya.

Sementara seorang beriman-sejati, karena keyakinannya kepada Kehidupan Ilahiah, begerak dengan perlahan dan berhati-hati.

Dia tidak takut kehilangan kesempatan atau takut kepada musuh, karena dikenalinya penguasaan Sang Raja atas musuhnya.

Dia tidak takut hamba yang lain akan menjatuhkannya dan memanfaatkan kelemahannya, Karena dipahaminya, Keadilan Sang Raja mencegah para pengikut-Nya sehingga tiada yang satu melakukan kejahatan kepada yang lain.

Itu sebabnya dia tidak tergesa-gesa dan tenang-tenang saja: dia tidak takut kehilangan bagian yang telah diperuntukkan baginya.

Berlimpah padanya kehati-hatian, kesabaran dan menahan-diri; dia puas-hati, tidak mementingkan diri sendiri dan murni hatinya.

Berhati-hati adalah cahaya Ar-Rahmaan, sementara tergesa-gesa adalah desakan Iblis.

Iblis mempertakuti manusia yang rakus untuk lari dari kemiskinan dan membunuh tunggangannya yaitu kesabaran dengan menusuknya.

Dengarlah Al Qur'an, Iblis itu mengancam engkau dengan mempertakutimu akan kemiskinan.

Sehingga dalam ketergesaanmu engkau memakan dan mengambil barang yang buruk, dan kehilangan dari dirimu kemurahan, kehati-hatian dan hasanah yang diperoleh dari amal-shaleh.

Dapatlah dimengerti, si kafir mengambil makanan yang dapat mengisi tujuh lambung: perutnya gendut; sementara agama dan jiwanya kurus-kering.

Catatan:
[1] Ibrahim Khalilullah a.s. sang Pemuka di jalan-Nya, menjadi tokoh sentral dalam puisi yang bersumber pada QS Al Baqarah [2]: 260, yang sangat indah dan penuh rahasia:

"Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, 'Yaa Rabb-ku perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Allah berfirman, 'Belum yakinkah engkau?' Ibrahim berkata, 'Aku telah meyakininya, akan tetapi agar mantap hatiku.' Allah berfirman, 'ambillah empat ekor unggas, lalu cincanglah semuanya olehmu. Lalu letakkan di atas tiap-tiap bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, lalu panggilah mereka, niscaya mereka datang padamu dengan segera.' Dan ketahuilah, Allah Maha Perkasa Maha Bijaksana."

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V 25-63
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama