Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Rintihan Seruling Bambu

Dengarkanlah suara seruling bambu Menyayat rintihannya, lantunkan perihnya perpisahan:

"Sejak direnggut aku dari rumpunku dulu, ratapan pedihku telah membuat berlinang air-mata orang. Kuseru mereka yang tersayat hatinya karena perpisahan.

Karena hanya mereka yang pahami sakitnya kerinduan ini. Mereka yang tercerabut dari tanah-airnya merindukan saat mereka kembali.

Dalam setiap pertemuan, bersama mereka yang tengah gembira atau sedih, kudesahkan ratapan yang sama.

Masing-masing orang hanya dapat mendengar sesuai pengetahuannya sendiri-sendiri.

Tak ada yang mencari lebih dalam tentang rahasia didalam diriku.

Rahasiaku tersembunyi didalam rintihanku, mata-telinga tak bercahaya takkan mampu memahaminya."

Desah seruling bersumber dari api, bukannya angin.

Apa gunanya hidup seseorang yang tak lagi ada apinya?

Adalah api cinta yang menghidupkan nyanyian sang seruling.

Adalah ragi cinta yang membuat anggur terasa lezat.

Lantunan seruling mengobati hati yang perih karena cinta yang hilang.

Lagunya menyapu hijab yang menyelubungi hati.

Adakah racun yang lebih pahit atau gula yang lebih manis daripada nyanyian seruling bambu?

Agar dapat kau dengar nanyian seruling itu mesti kau tanggalkan semua hal yang pernah kau ketahui.

Catatan:

Matsnavi-nya Rumi dimulai dengan puisi ini. Kerinduan seruling: diri sang pencari yang telah kosong dari tabiat rendah dan hawa-nafsunya sendiri hanyalah bertemu dengan Penciptanya. Ia berhembus dibalik setiap niat dan amalnya. Kerinduan yang mengalir di segenap bagian Matsnavi.


Sumber:

Jalaluddin Rumi, Matsnavi I: 1-18.

Berdasarkan versi terjemahan oleh Jonathan Star, "Rumi-In the Arms of the Beloved." Jeremy P. Tarcher/ Putnam, New York, 1997.

Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Reynold A. Nicholoson.



Rahasia Kebenaran

Rahasia kebenaran takkan terbuka karena banyaknya mengajukan pertanyaan; tak pula karena menyerahkan seluruh harta dan kehormatan;

tapi hanya ketika telah lewat usiamu lima-puluh tahun; saat hati dan matamu telah memerah-darah.

Dari semua perbincangan ini, tak seorang pun menemukan jalan menuju peleburan.

Sumber:

Jalaluddin Rumi, Rubaiyat F#1088

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Kabir Helminski.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post