Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Lepaskanlah Beban


Lepaskan lah beban kehidupan ini, agar dapat kukunjungi taman kaum yang saleh.

Lalu, bagai ashabul-kahfi, kutelusuri jalan penuh karunia ketika tak lagi ku terjaga, bukan pula ku tertidur.

Ku kan berbaring ke sebelah kanan, atau ke sebelah kiri; tak akan aku berguling bagai bola, kecuali tak sengaja.

Seperti itu lah, wahai Al-Hakim, Engkau membolak-balikkan aku kadang ke kanan, kadang ke kiri.[1]

Ratusan ribu tahun aku melayang kesana-kemari, bak debu di udara.[2]

Telah kulupakan keadaan saat itu, tapi ketika jiwaku tengah lebur, dibawa aku kembali kesana, dan perlahan ingatanku pulih.

Setiap malam kudamba kemerdekaan dari salib bercabang empat ini,[3] dan melesat dari wadah sementara yang sesak ini, menuju padang ruhaniyah nan lapang.

Bersama sang juru-rawatku: tidur yang lebur, kuhirup kembali susu berupa pengetahuan masa-masaku yang telah berlalu, yaa Rabbi.

Semua makhluk melarikan diri dari kehendak-bebas dan keberadaan diri mereka sendiri menuju sisi ketidak-sadaran.

Agar sejenak mereka dapat rehat dari terbatasnya kesadaran mereka, mereka gunakan bantuan minuman dan irama.[4]

Semua makhluk berakal paham, keberadaan ini bisa memerangkap, dan hilir-mudiknya pikiran dan ingatan dapat menjadi sebuah neraka.

Wahai manusia yang berakhlak baik, lihatlah mereka bergegas tinggalkan keakuan diri menuju ketiadaan ego; dengan meleburkan-diri, atau dengan amal yang berat.

Catatan:
[1] Dari QS al-Kahfi [18]: 18, "... dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri..."

[2] Ini tentang periode ketika jiwa belum dimasukkan ke dalam jasmani.

[3] Lepasnya jiwa dari penjara jasmani (yang terbentuk dari 4 unsur).

[4] "Minuman," kesegaran pengetahuan yang baru terpahami; "irama," ritme jalannya kehidupan yang berpola selaras pengajaran-Nya.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 216-227
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post