Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Kebanjiran Air


Diturunkan air berbentuk hujan dari langit penuh bintang,[1] agar ia membersihkan kotoran dan ketidak-murnian.

Pandang lah bagaimana air membasuh ketidak-sucian; dan bagaimana Allah Maha Tinggi memurnikan air itu sendiri dan ketidak-murniannya. Tak diragukan lagi, Allah Maha Tinggi itu paling Murni dan Suci.

Ketika air memerangi ketidak-murnian dan menjadi kotor-sedemikian rupa[2] sehingga tak bisa lagi ia membersihkan - Allah Maha Penyayang membawanya ke Samudera Kebenaran: disana Hakikat Air memurnikannya kembali.[3]

Tahun berikutnya, dia akan datang kembali, memakai jubah yang bersih,[4] panjang menjuntai.

Bertanya Bumi kepadanya, "Kemana saja engkau pergi?"

Dan dia menjawab, "Ke dalam Samudera Kebaikan yang manis. Kotor aku ketika bertolak dari tempat ini, Lalu aku dimurnikan. Dipakaikan padaku jubah kehormatan. Lalu kembali aku ke Bumi."

"Kemari, menghampirlah kemari, wahai semua yang kotor: diriku kini telah mengambil sesuatu dari sifat Allah,

Akan kuterima kotoranmu dan kan kuganti dengan kesucian bagaikan digantinya setan dengan malaikat.

Dan ketika diriku terkotori, aku kan pergi ke tempat di Langit itu, ke sumber semua kemurnian.

Akan kutanggalkan semua pakaian kotorku, dan Dia akan kembali memberiku jubah kehormatan yang murni.

Pada apa yang kukerjakan, Dia lah yang bekerja. Dan yang harus dipuji adalah Allah: Rabb, Tuhan, semesta alam-alam."[5]

Jika tak ada dosa dan salah kita takkan air dimuliakan.

Kerja air itu bagaikan orang yang mengambil sekantung emas, lalu berkeliling kemana-mana, seraya bertanya, "siapakah yang sedang tak berharta?"[6]

Ia tercurah pada tanaman yang sedang tumbuh,[7] atau membersihkan wajah yang kotor.[8]

Atau dipanggulnya kapal, yang sedang tak berdaya di atas kepalanya.[9]

Ratusan-ribu jenis obat terkandung di dalamnya; karena semua jenis obat ditumbuhkan olehnya.[10]

Inti dari semua mutiara[11] dan jiwa dari semua biji[12] dimurnikan dalam aliran air bagaikan pasien disembuhkan di klinik.

Terdapat nutrisi di dalamnya bagi para yatim dari Bumi dan ada gerakan darinya bagi semua yang telah kering-kerontang dirantai dan terpenjara.

Ketika batas kemampuannya terlewati ia menjadi kotor, ia lelah: seperti kita semua, di Bumi.

Ketika air telah menjadi kotor, ia memohon pertolongan kepada Allah yang Maha Agung Maha Terpuji.

Dari inti dirinya, naik lah sebuah permohonan menyayat: "Wahai Tuhanku, apa-apa yang sudah Kau anugerahkan padaku telah semuanya kuberikan, kini aku bagaikan seorang pengemis fakir.

Telah kutebarkan semua pemberianmu kepada mereka yang murni atau pun kotor. Wahai Raja sumber semua kebaikan, masih adakah tambahan?"[13]

Bersabda Tuhan kepada awan, "Bawa lah air ke sumber kebahagiaan;" dan kepada matahari, "tarik lah air ke atas."

Tuhan menuntunnya melalui berbagai aliran sampai dia mencapai Samudera tak-terhingga.

Air yang kubahas ini adalah ibarat bagi jiwa para waliyullah, yang menjadi pembersih bagi dosa dan kesalahanmu.[14]

Ketika ia tercemari karena mencuci kotoran para penghuni Bumi, ia kembali ke Langit menghadap sang Pelimpah Kemurnian.

Lalu datang kembali, mengenakan jubah kehormatan, ia turun membawa pengajaran, dari sumber mulia itu, tentang kemurnian Allah yang Maha Meliputi.

Ia mensucikan tanpa debu,[15] ia meluruskan arah para pencari kiblat[16] tanpa perlu ditanya. Ia melemah karena bercampur-baur dengan manusia.[17]

Karena itu ia merindu perjalanan agar disegarkan kembali (bagai ucapan Rasulullah): "Wahai Bilal, segarkan lah kami;[18] Wahai Bilal yang merdu suaranya, naiklah ke atas menara dan lantunkan panggilan keberangkatan sebuah perjalanan."[19]

Jika sungguh tegak sebuah shalat,[20] melesat jiwa dalam sebuah perjalanan. Karena itu, ketika kembali ia mengucapkan salam.[21]

Ujaran ini memakai ibarat sebagai perantara; itu yang diperlukan awam agar dapat mengerti.

Tanpa ada yang memperantarai panasnya api tak ada yang bisa masuk ke dalamnya; kecuali seekor salamander.[22]

Karena engkau bukan seorang Ibrahim,[23] kamar-mandi uap yang panas itu bagaikan seorang utusan bagimu, dan air lah yang menjadi pemandu untukmu.

Kepuasan sepenuhnya berasal dari Rabb, tapi manusia yang terbuat dari tanah takkan puas tanpa diperantarai sepotong roti.[24]

Rabb itu Maha Indah, tapi manusia tak mampu memahami keindahan tak-terhingga, tanpa diperantarai indahnya jannah.

Jika raga tak lagi menjadi perantara yang menengahi, maka akan dilihatnya rembulan purnama menyala di dadanya;[25] tanpa ditutupi hijab lagi, bagaikan seorang Musa.[26]

Kebajikan air menyaksikan bahwa hakihat di dalam dirinya adalah limpahan Rahmat Allah.

Catatan:
[1] Dari langit pertama, langit alam dunia. "dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu rijzasy-syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya pijakanmu." (QS Al Anfaal [8]: 11)

[2] "Menjadi kotor," adalah kondisi air setelah menjadi sarana berwudhu seorang muslim saat sang muslim akan bershalat. Pada tataran yang lebih dalam, Nicholson menerangkan, jiwa seorang waliyullah murni seperti air suci; dan bagaimana ketika terkotori karena persentuhan dengan dosa manusia, lalu kemurniannya diperbarui dengan melebur kepada Tuhan.

[3] "Hakikat Air:" Dia yang Maha Suci dan Mensucikan.

[4] Jubah takwa, pakaian takwa, yang disematkan kepada jiwa yang bertakwa.

[5] Alhamdulillahir-rabbil-alamiin. (QS [1]: 2)

[6] Menjadi sarana dalam menebarkan Rahmat-Nya.

[7] Secara lahiriah menyuburkan tanaman. Arti pada lapisan yang lebih dalam: menaikkan tingkat atau tataran jiwa para manusia (yang diasuh sang wali).

[8] Secara lahiriah, bagian dari rukun berwudhu. Arti pada lapisan yang lebih dalam: memutihkan wajah, membantu membersihkan dosa yang semula mengotori kalbu pada manusia.

[9] Membantu mengangkat beban mereka yang tengah berjuang melawan keraguan dan keputus-asaan.

[10] "... dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup ..." (QS [21]: 30) Dari "Air suci" yaitu jiwa sang wali ditumbuhkan berbagai obat penyembuh aneka macam penyakit pada jiwa manusia.

[11] "Mutiara," Khazanah Tersembunyi pada diri insan yang telah berhasil ditemukan dan diejawantahkan.

[12] "Bibit," Khazanah Tersembunyi pada diri insan yang masih tersembunyi di inti hatinya.

[13] "Masih adakah tambahan?" lihat QS [50]: 30.

[14] Jiwa waliyullah menjadi sarana Allah mensucikan dosa para makhluk yang bertaubat.

[15] Bandingkan dengan cara ber-tayamum, berwudhu dengan debu saat air tiada. Jiwa para waliyullah membantu mensucikan dosa pada hati manusia tanpa perlu dibantu sarana lain.

[16] Membantu para pencari agar menuju Wajah-Nya semata.

[17] Seperti air yang menjadi kotor karena dipakai membasuh, demikian pula jiwa para waliyullah yang melemah karena membasuh dosa para manusia.

[18] Sahabat Bilal, muadzin Rasulullah saw.

[19] Adzan, panggilan untuk menghadap kepada-Nya.

[20] Shalat itu mi'raj-nya kaum yang beriman paripurna.

[21] Salam, tanda kembali dari perjalanan menghadap, kembali dapat berinteraksi dengan makhluk.

[22] "Salamander," ibarat untuk para nabi, para waliyullah, orang suci yang hidup dalam api ujian Allah.

[23] "... Wahai api, jadi lah sejuk dan jadi lah keselamatan bagi Ibrahim." (QS [21]: 69)

[24] Aspek raga dari insan, yang berasal dari tanah, hanya dapat dipuaskan oleh sesuatu yang berasal dari Bumi pula.

[25] Terang cahaya iman.

[26] "Dan masukanlah tangamu ke leher bajumu, niscaya ia akan keluar putih bersinar..." (QS [27]: 12) adalah salah satu tanda kenabian Musa as. Disini Rumi membantu menerangkan bahwa putih terangnya tangan nabi Musa setelah menyentuh dadanya adalah sedikit isyarat yang diizinkan-Nya menjasad dari putih cemerlangnya cahaya iman di dalam dada sang nabi.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V: 199-235
Berdasarkan terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Ibrahim Gamard dan Nicholson.


Dengarkanlah Kearah Manaana Ia Berayun


Terpuji lah yang Maha Suci, sang Pencipta yang Gaib: dibangunnya istana Sabda.

Ketahuilah, sabda itu bagaikan suara pintu yang terdengar dari istana rahasia; coba lah untuk mencermati, apakah itu suara pintu yang tengah membuka atau menutup.

Suara pintunya dapat didengar tapi pintunya sendiri tak tampak: kau dengar suara pintu itu tapi pintunya sendiri tak terlihat.

Ketika alunan nada dari harpa kebijaksanaan mulai terdengar berdenting, cermati baik-baik: ke arah mana Pintu Surga tengah berayun.

Karena letakmu jauh dari pintu itu, dengarkan lah suaranya dengan penuh perhatian.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 3481-3485
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi; Jewels of Rememberance Threshold Books, 1996

Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.


Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post