Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Selamat Diri Dari Berniaga


Wahai makhluk duniawi yang suka berniaga, dapatkah kau menjual sesuatu manakala tak ada pembelinya?

Banyak pengunjung pasar yang hanya melihat-lihat, tapi tak mampu membeli.

Mereka mondar-mandir, pura-pura menawar, hanya untuk habiskan waktu, atau sekedar iseng.

Karena tengah bosan, mereka berpura-pura tertarik daganganmu, menanyakan padamu berapa harganya; tapi sebenarnya tak ada yang mereka cari.

Barang dagangan diperiksanya berkali-kali, tapi selalu dikembalikan kepadamu; panjang-lebar kain dia ukur, tapi tak ubahnya dia mengukur angin.

Sungguh jauh bedanya pendekatan dan tawar-menawar seorang pembeli, dengan keisengan seorang yang sedang bosan.

Karena tak dimilikinya harta sedikit pun, ucapannya ingin membeli selembar baju hanya bualan saja.

Dia tak punya modal untuk berjual-beli, lalu apa bedanya orang malang ini dengan sesosok bayangan?

Modal berjual-beli di pasar alam-dunia ini adalah emas; sedangkan modal untuk alam-akhirat adalah cinta dan berurai-basahnya ke dua matamu.[1]

Barangsiapa pergi ke pasar tanpa modal, maka hidupnya berlalu tanpa terasa, lalu dia kembali dengan cepat dengan penyesalan mendalam.

Ketika ditanyakan padanya: "Wahai saudaraku, kemana saja engkau pergi?" (jawabnya): "tak kemana-mana."[2]

"Hidangan apa saja yang telah kau cicipi?" (jawabnya): "tak ada yang lezat."[3]

Jadi lah seorang pembeli, maka akan terulur tangan-Nya padamu, menawarkan sesuatu;[4] maka harta karun-Nya yang berlimpah-ruah akan memunculkan merah delima.[5]

Jika sang pembeli sedang lalai atau meredup, maka seru lah kepada Diin Haqq, karena perintah untuk menyeru telah diturunkan.

Terbanglah wahai rajawali, tangkaplah merpati ruhaniyyah: ketika menyeru kepada Rabb, ikuti lah jalan Nabi Nuh a.s.[6]

Mengabdi lah bagi-Nya semata; tak perlu engkau pedulikan penerimaan atau penolakan manusia.

Catatan
[1] "Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata" (QS al Balad [90]: 8); Juga mengingatkan kepada hadits tentang 3 hal yang Rasulullah SAW cintai di dunia ini, yang menjadi pokok bahasan Fash Muhammadiyyah (Ibn al-'Arabi, Fushush al-Hikam).

[2] Selain susah bergerak secara fisikal di alam dunia, ini juga berarti "jiwanya tak kemana-mana, karena terpenjara di dalam raganya sendiri."

[3] Ini juga berarti "jiwanya tak pernah mencicipi lezatnya hidangan ruhaniyyah;" yang disediakan bagi mereka yang bertaubat.

[4] "Wahai orang-orang yang beriman, sukakah engkau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari adzab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itu lah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Niscaya Allah akan ampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan ke tempat yang baik di jannah 'Adn. Itu lah keberuntungan yang besar. Dan karunia yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada kaum al-mukminiin." (QS Ash-Shaff [61]: 10-13)

[5] Lihat puisi yang berjudul: Khazanah Tersembunyi

[6] Kesabaran luar-biasa yang diteladankan Nabi Nuh a.s. ketika menyeru kaumnya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal diantara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun ..." (QS Al 'Ankabuut [29]: 14)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 831-845
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama