Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Saksi Terkasih


Muhammad (saw) itu pemberi syafa'at atas segala jenis aib, karena tatapannya tak pernah teralihkan pada hal lain: senantiasa tertuju pada wajah Rabb.

Di tengah kegelapan malam alam dunia ini, dimana matahari al-Haqq terhijab, dia menatap Rabb, dan meletakkan harapannya kepada-Nya.

Pandangannya senantiasa disegarkan oleh makna sejati "bukankah telah Kami lapangkan dadamu?"[1] dilihatnya hal-hal yang tak mampu Jibril tatap.

Sang yatim, yang kepadanya Rabb limpahkan kesegaran pandangan, menjadi mutiara yatim tunggal, yang dianugerahi panduan Ilahiah.

Cemerlang cahayanya mengatasi mutiara lain, karena yang dikehendakinya adalah kehendak yang paling mulia.

Seluruh kedudukan ruhaniah para abdi Allah jelas belaka bagi sang Nabi, karenanya Rabb menggelarinya: sang Saksi.[2]

Senjata sang Saksi adalah lisan yang tulus dan pandangan yang tajam yang dari penjagaan malamnya tak ada rahasia yang dapat menghindar.

Walau pun ribuan saksi palsu mengangkat kepala mereka, sang Hakim mengarahkan telinganya kepada sang Saksi.

Ini lah yang dilakukan hakim ketika menegakkan keadilan: baginya saksi yang benar itu bagaikan sepasang mata yang jernih.

Pernyataan sang Saksi selaras dengan penglihatannya yang jernih, karena dia telah melihat rahasia kebenaran, dengan mata yang tak tercemari oleh kepentingan pribadi.

Saksi palsu telah melihatnya pula, tapi tercemari kepentingan pribadi; ini lah yang menjadi hijab, yang menutupi mata-hati.

Adalah menjadi kehendak-Nya agar engkau menjadi seorang asketik, zahid, agar kau tanggalkan kepentingan pribadi dan menjadi seorang Saksi, Syahid.

Aneka macam alasan dibalik kepentingan pribadi menghijab mata, menghalangi penglihatan.

Orang yang penuh kepentingan pribadi takkan dapat melihat keseluruhann sosok persoalan: cinta pada ciptaan membuat buta dan tuli.

Ketika Matahari Ilahiah menyematkan cahaya di qalb sang Saksi, maka surut peran bintang-bintang baginya.

Sejak itu dia menatap rahasia-rahasia tanpa hijab dilihatnya perjalanan jiwa kaum beriman dan kaum kufur.

Tidak lah Tuhan mencipta, di Bumi atau di Langit yang tinggi, sesuatu yang lebih gaib daripada ruh insan.

Telah Dia singkapkan rahasia segala sesuatu, baik yang basah maupun yang kering, namun Dia menutup rahasia ruh, "katakanlah, ia termasuk urusan Tuhan-ku."[3]

Karena penglihatan saksi yang mulia melihat ruh itu, maka sia-sia lah tetap bersembunyi darinya.

Tuhan disebut Yang Maha Adil, dan saksi itu milik-Nya: saksi yang adil adalah mata Sang Kekasih.

Sasaran pandangan mata Tuhan di kedua dunia adalah kesucian hati: tatapan Sang Raja tertuju pada orang yang terkasih.

Rahasia cinta-kasih-Nya, yang bermain-main dengan kekasih-Nya adalah sumber dari seluruh tabir yang telah Dia ciptakan.

Oleh karena itu Rabb Maha Pengasih berfirman pada sang Nabi di malam mi'raj, "Jika bukan karena engkau, niscaya takkan Kuciptakan alam."

Catatan:
[1] "Alam nasyhrah laka shadraka" QS al-Insyirah [94]: 1

[2] "... agar Rasul menjadi saksi atas dirimu, dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia..." QS al-Hajj [22]: 78

[3] "... qulir-rruuhu min amri rabbii ..." QS al-Isra [17]: 85

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 2861-2884
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post