Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Obat Bagi Sang Pencinta


Obat bagi segala kegalauan intelektual hanya lah sekilas Wajah Sang Kekasih, semua wajah yang mempesonamu tak lain adalah hijab-Nya.

Wahai pengabdi Sang Kekasih, hadapkan lah wajah pada wajahmu sendiri: ketahuilah pencari yang bingung, tak ada engkau berkerabat selain dengan dirimu sendiri.

Sang pencari sejati menghadap kiblat pada masjid di dalam qalb-nya sendiri: tak ada sesuatu pun bagi insan kecuali apa-apa yang teruntuk baginya.

Sebelum didengarnya jawaban atas do'anya, telah bertahun dia berdo'a.

Dia biasa berdo'a dengan khusyu, tanpa didapatinya suatu hasil; tapi secara rahasia, dari sisi Rahmat-Nya yang penuh kasih, didengarnya jawaban: Labbayka, Aku disini.

Sejak itu hidupnya bagaikan sebuah tarian selaras iringin musik tak terdengar: dia fakir yang menggantungkan diri pada pencukupan dari Sang Pencipta nan Agung.

Walau tak terdengar didekatnya suara dari langit atau hadir sesosok pun utusan Ilahiah, tapi telinga dari harapannya dipenuhi dengan, Labbayka, Aku disini.

Harapannya selalu berseru--tanpa lisan: Datang lah; dan seruan itu membasuh bersih semua keletihan dari dalam qalb-nya.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 1982-1989
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson dibandingkan dengan terjemahan versi Camille dan Kabir Helminski dalam Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996

Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post