Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Merdeka Ketika Berserah Diri

Janganlah kau bosan bersamaku, sungguh aku seorang saksi yang indah. Sang Maha Pencemburu telah sembunyikanku di balik sebuah cadar.

Pada hari kutanggalkan cadar raga ini, akan kau saksikan bagaimana cemburunya rembulan dan bintang-bintang padaku.

Basuhlah wajahmu dan murnikan dirimu sehingga kau bisa saksikan aku. Atau menjauhlah engkau dariku, karena aku adalah saksi bagi diriku sendiri.

Aku bukanlah saksi yang esok akan pikun atau bungkuk karena tua. Aku kan selalu muda, menyegarkan, dan sedap dipandang.

Jika cadar raga ini melapuk, sang saksi takkan beranjak menua; masa pakai cadar kan berakhir, tapi kami selamanya hidup.

Ketika Iblis melihat cadar raga Adam, dia menolaknya. Adam berkata padanya, "Engkaulah yang tertolak, bukan aku."

Sementara para malaikat bersujud dan berkata, "Kami telah temukan seorang saksi.

Dibalik cadarnya terdapat sesosok pujaan yang sifat-sifatnya mempesona akal kami, maka kami bersujud padanya.

Jika kecerdasan kami tak dapat membedakan seorang saksi dengan para dukun yang berbau busuk, maka kita telah memberontak pada Cinta Sang Kekasih.

Apakah kedudukan seorang saksi? Ia bagaikan singa Tuhan- kami pakai istilah kekanak-kanakan ini karena kami sedang berbicara dengan anak-anak, yang baru belajar membaca.[1]

Anak-anak gampang dibujuk dengan kembang-gula atau manisan; sebenarnya, apa urusan kami bicarakan soal jajanan?

Jika dalam perang di jalan Allah, datang seorang nenek tua yang menyamar, memakai baju zirah yang tertutup sampai kepala, seraya dia berkata, "Aku lah Rustam;" maka dari gerakannya semua orang akan tahu dia sebenarnya seorang perempuan.

Demikianlah, kami teliti dan menjauh dari kesalahan, kami bermandikan Nur Muhammad!"

Sang Nabi yang mulia berkata, "Kaum yang beriman itu teliti;"[2] kini diamlah, karena tuntunan petunjuk itu diturunkan dalam kesunyian.

Selanjutnya, dengarkanlah Syams at-Tabriz, karena yang telah kami kisahkan tak lebih dari sejumput kisah dari Raja itu.

Catatan:
[1] Tingkatan akal manusia dibandingkan dengan para penghulu malaikat.

[2] Bandingkan dengan "Wahai kaum beriman bertakwalah pada Allah, niscaya dijadikan bagimu furqaan ..." (QS Al Anfaal [8]: 29). Salah satu arti furqaan adalah petunjuk untuk memilah/ membedakan.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal 1705
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William A. Chittick dalam The Sufi Path of Love, SUNY Press, Albany, 1983.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama