Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Lenyapnya Bayangan


Demikian lah keadaan sang pencari yang mendambakan Hadirat Rabb-nya. Ketika Rabb tampil, sang hamba sirna.

Walaupun penyatuaan dengan Rabb itu keabadiaan di atas keabadian, tapi pertama-tama itu berarti matinya sang hamba dari dirinya sendiri.

Bayangan yang mencari Cahaya lenyap, ketika Cahaya-Nya tampil.

Bagaimana akal akan bertahan ketika Dia memerintahkannya pergi?

Semuanya sirna kecuali wajah-Nya.[1]

Dihadapan wajah-Nya, musnah semua wujud dan ketiadaan: sungguh mencengangkan wujud di dalam ketiadaan.

Pada hadirat ini, semua akal lenyap: ketika pena mencapai titik ini, patahlah ia.

Catatan:
[1] Lihat QS al-Qashash [28]: 88.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi III: 4658-4663
Dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski; berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama