Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Ku Kan Berlari Cepat


Ku kan berlari cepat, dan takkan ku berhenti, sampai aku bergabung dengan kafilahku.[1]

Ku kan lebur bagai udara dan musnah, hingga Sang Kekasih meraihku.

Menyala gembira hatiku, bagai api yang memusnahkan rumahku, lalu berkelana aku ke gurun.

Aku akan menjadi debu di tanah padang yang tandus sampai Kau buat aku menghijau teduh.[2]

Aku akan mengalir merendah bagaikan air bersujud sepanjang jalan menuju ke taman-mawar-Mu.

Sejak aku jatuh dari langit[3] gemetaran aku bagai butiran debu. Aku baru aman dan tenang[4] jika kucapai Tujuan.

Kudapati langit penuh hal mengerikan dan bumi tempat kehancuran; aku kan selamat dari ke dua bahaya ini ketika kuraih Sang Sultan.[5]

Di alam-dunia yang tersusun dari tanah dan air ini bercampur-baur kekufuran dan kehancuran, kulewati hati penuh kemusyrikan agar kucapai keimanan.

Sang Raja penguasa semesta alam yang menjaga kesetimbangan dan keserasian, memandang kepada pencinta yang seimbang--

Kudamba wajahku bersinar kekuningan[6] bagai kilau mata-uang emas sehingga ditempatkan-Nya aku dalam keseimbangan-Nya.

Rahmat-Nya bagaikan air, mengalir ke tempat yang rendah. Aku kan menjadi debu agar teraliri Rahmat-Nya supaya ditarik aku menuju ar-Rahim.

Takkan seorang tabib merawat dan meracik obat jika tak ada penyakit.

Sekujur diriku lahir dan batin sakit[7] agar kuraih tangan Sang Penyembuh.

Catatan:
[1] "Maka kemana kah kau akan pergi?" (QS at-Takwir [81]: 26) "Sesungguhnya ku kan menghadap kepada Tuhanku, kiranya Dia menunjukiku." (QS ash Shaaffaat [37]: 99)

[2] Curahan air pengetahuan ketuhanan dari langit hakiki membuat bumi diri sang mukmin menghijau, "Tidak kah kau lihat bahwa Allah menurunkan air dari langit lalu jadi lah bumi itu hijau..." (QS al Hajj [22]: 63)

[3] Salah satu makna dari "Turun lah kalian bersama-sama..." (QS Thaahaa [20] 123)

[4] "... yang megamankan mereka dari ketakutan." (QS al Quraisy [106]: 4)

[5] "... dan adakan lah bagiku dari sisi Engkau suatu kuasa (sulthan) yang menolong." (QS al Israa [17]: 80)

[6] Warna wajah sejati orang yang dilimpahi kahikat pengetahuan ad-Diin ke qalb-nya.

[7] "dan bila aku sakit, Dia lah yang menyembuhkanku." (QS asy Syu'araa [26]: 80)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz ghazal 1400
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick dalam "The Sufi Path of Love-The Spiritual Teachings of Rumi" The State University of New York, Albany, 1983.

Dibandingkan dengan terjemahan oleh Azima Melita Kolin dan Maryam Mafi dalam "Rumi: Hidden Music" HarperCollins Publishers Ltd, 1983.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post