Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Kegaduhan Sebelum Waktu Sahur


Seorang lelaki memukul-mukulkan tongkat ke gerbang pagar, di depan sebuah rumah-gedung besar, sambil berseru, "sahur, sahur..."

Sedang dia asyik menabuh besi pagar, seorang tetangga berkata kepadanya: "Wahai peminta-minta, sekarang belum masuk waktu sahur, jadi jangan gaduh;

Lagi pula, wahai fakir, perhatikan lah, tiada orang menghuni rumah itu, isinya cuma setan dan hantu, percuma saja kegaduhanmu.

Tak ada disitu telinga, yang dapat mendengar tabuhanmu; tak ada disitu akal, yang dapat mengerti tujuanmu."

Lelaki pembuat kegaduhan itu menjawab, "Kudengar perkataanmu, kini perkenankan kujawab, agar engkau tak heran atau bingung.

Walaupun menurutmu kini masih tengah-malam, tapi kulihat fajar segera merekah.

Kulihat segala kekalahan segera berubah menjadi kemenangan, di mataku, semua malam segera kan berubah menjadi siang.

Bagimu air Sungai Nil memerah, bagiku itu bukan darah, tapi air segar.

Menurutmu, pagar besi ini keras; tapi di tangan Dawud, ia lunak dan mudah dibentuk.[1]

Menurutmu, gunung itu kokoh dan mati, tapi bagi Dawud, ia pandai bernyanyi.[2]

Menurutmu, butiran kerikil itu bisu, tapi bagi Mustapha ia fasih ber-tahlil.[3]

Menurutmu batang kurma itu mati, tapi bagi Mustapha ia bagai seorang kekasih yang patah hati.[4]

Bagi mereka yang jahil, benda-benda di seantero semesta ini tampak mati, tapi di hadapan Sang Pencipta, mereka berilmu, dan tunduk pada kehendak-Nya.

Sedangkan mengenai ucapanmu, "mengapa aku ribut memukul pagar, sedangkan gedung ini kosong, dengarkanlah penjelasanku:

Mengapakah kaum Muslim menginfakkan hartanya bagi Rabb mereka, untuk mendirikan masjid dan lembaga pengajaran?

Dan bagai pencinta yang mabuk, bersuka hati mempertaruhkan jiwa dan harta menempuh perjalanan haji?

Apakah pernah mereka mengatakan, Baytullah itu kosong? Tidak! Mereka tahu, Rabb pemilik bayt itu Ghayb.

Apakah mereka yang pergi berhaji itu pernah berkata: kami terus melantunkan 'Labbayka,' tapi mengapa tak pernah memperoleh jawaban?

Tidak, Rahmat Ilahiah yang menyebabkan mereka melantunkan 'Labbayka' itu, sebenarnya adalah jawaban yang setiap saat datang dari yang Maha Tunggal.

Dalam bashirah-ku gedung ini adalah sebuah tempat perjamuan bagi jiwa, dan debunya adalah sebuah ramuan.

Akan terus kupukulkan tongkatku untuk mengaduk ramuan itu;[5] Sehingga dengan caraku membangungkan sahur ini, Lautan Rahmat Ilahiah akan pasang-naik dan melontarkan mutiara, serta menyingkapkan khazanah-nya.

Lelaki sejati mempertaruhkan jiwa mereka di medan perang dan bertempur demi Sang Pencipta.

Seperti yang dicontohkan Ayyub dengan cobaannya, atau seperti Ya'qub dengan kesabarannya.

Ribuan orang, di tengah lapar-haus dan kesedihan mereka, sekuat-tenaga berupaya beramal demi keridhaan Rabb.

Aku juga demikian, demi Rahmat Ilahiah dan harap akan ridha-Nya, memukul-mukul gerbang membangunkan orang bersahur."

Wahai yang masih memiliki hati, jika engkau berniaga dan berharap pembelimu membayar dengan emas, maka tak ada pembeli yang lebih baik daripada Rabb.

Dia menerima barang daganganmu yang kumuh, dan memberimu suatu cahaya batiniah yang cemerlangnya berasal dari Cahaya-Nya.

Dia menerima amal tak seberapa dari raga rapuh ini, dan memberimu sebuah kerajaan yang khayalanmu tak mampu bayangkan.

Dia menerima beberapa butir air-matamu, dan melimpahkan Telaga Kautsar, yang sedemikian lezat, sehingga gula cemburu pada kemanisannya.

Dia menerima desah kesedihan serta asap kerisauanmu, dan mengganti setiap desah dengan seratus kebanggaan.

Karena desah kesedihan yang meniup awan air-mata, Dia telah menyebut al-Khalil, sang pendesah.[6]

Segera lepaskan barang palsumu yang lusuh di pasar riuh-rendah tak-terbandingkan ini, dan terima lah suatu kerajaan asli sebagai pembayaran.

Jika engkau masih juga ragu atau curiga, berpeganglah kepada mereka yang ahli perniagaan ruhaniyah: para nabi.

Sang Raja Sejati tak henti-hentinya meningkatkan peruntungan mereka, tak ada satu pun gunung sanggup memikul barang dagangan mereka.

Catatan:
[1] QS [21]: 80.

[2] QS [38]: 18

[3] Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan bagaimana butiran kerikil di dalam genggaman tangan Abu Jahal --yang dimaksudkannya untuk menguji Rasulullah, saw-- malahan melantunkan tahlil.

[4] Merujuk ke Matsnavi jilid I, bagian yang menceritakan bagaimana sebatang pohon kurma, yang biasa dipakai bersandar Rasulullah, saw, ketika mengajar, merintih--ketika diketahuinya para sahabat membuatkan mimbar untuk menggantikannya.

[5] Akan sekuat tenaga beramal dengan memanfaatkan raga agar meraih keberhasilan di jalan pertaubatan.

[6] "... inna ibrahima la-awwahuun..." (QS [9]: 114).

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 846-887
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama