Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Jangan Kau Sesali


Jangan kau sesali lenyapnya kebahagianmu; ketahui lah ia akan kembali padamu dalam bentuk yang lain.

Saat kanak-kanak kau berbahagia ketika kau menyusu. Ketika mulai tumbuh membesar kau bosan pada susu, dan kesenanganmu beralih pada minuman lain dan madu.

Kesenangan adalah sesuatu yang esensial ia datang menyapamu melalui aneka bentuk. Ia bergerak dari satu sudut ke sudut lain pada unsur air dan tanah-lempung, yang membentuk dirimu.

Ia bisa mendadak mempertontonkan keindahannya pada butir air hujan, lalu ia merasuki pokok mawar, dan keanggunan kecambahnya ketika bibitnya bangkit dari tanah.

Ia bisa datang dari air, dari kelezatan roti dan daging, lalu melalui kecantikan, lalu melalui anggunnya kuda tunggangan.

Sampai, mendadak suatu hari, dari balik hijab-hijab itu, ia menerobos dan menghancurkan berhala-berhala: Ia bukan lah bentuk yang ini bukan pula bentuk yang itu.[1]

Jiwa, saat kau tenggelam dalam lebur, keluar dari tubuhmu dan tampil di alam khayal; sementara tubuhmu diam dan ditinggalkannya, ia memanifestasi sebagai sebuah imaji.

Secara awam kau bisa katakan seperti ini: "Dalam sebuah mimpi kulihat diriku sendiri tegak tinggi bagai sebatang cemara wajahku secantik bunga tulip semerbak harumku bagai mawar dan melati."

Lenyap bentuk imajinal seperti itu ketika jiwa kembali kedalam rumahnya; sesungguhnya terdapat peringatan penting bagi semua makhluk, baik saat jiwa kembali maupun ketika bertolak.[2]

Telah kuutarakan apa yang mungkin disampaikan, lebih dari ini kutakutkan mudharatnya; sungguh Sabda-Nya jauh lebih indah daripada lantunanku: berpegang-erat lah kepada buhul tali keimanan.[3]

Jika tak mampu menyajikan hidangan yang layak setidaknya ucapkanlah kata-kata yang arif.[4]

Wahai Tabriz-nya jiwa pandanglah gemintang di langit qalb mungkin kan kau dapati cahaya redup ini sebuah bayangan dari Syams ad-Diin.

Catatan:
[1] Apa saja yang menghijab qalb seseorang dari Cinta Ilahiah adalah sebuah berhala bagi orang tersebut.

[2] "Alam Khayl" atau "Alam Mitsal" dimana segala sesuatu di "Alam Syahadah" (nampak, terinderai) ini adalah bayangan darinya. Berfungsi sebagai lokasi pemurnian, letaknya diantara alam yang ditempati jiwa dan alam syahadah. (dari catatan kaki terjemahan Nicholson).

[3] Lihat QS Al Baqarah [2]: 256.

[4] Lihat QS Al Baqarah [2]: 263.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no. 1937
Diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam "Mystical Poems of Rumi 2," The University of Chicago Press, 1991.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama