Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Berpuasa Menanti Perjamuan Nya


Ada yang terasa manis tersembunyi di balik laparnya lambung

Insan itu tak ubahnya sebatang seruling. Ketika penuh isi lambung seruling, tak ada desah: rendah atau tinggi yang dihembuskannya.

Jika lambung dan kepalamu terasa terbakar karena berpuasa, apinya akan menghembuskan rintihan dari dadamu.

Melalui api itu akan terbakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam Jalan dan cita-citamu.

Jaga lah agar lambungmu kosong. Merintih lah bagai sebatang seruling dan sampaikan keperluanmu kepada Rabb.

Jaga lah agar lambungmu kosong hingga dapat kau lantunkan bermacam rahasia layaknya sebatang seruling.

Jika lambungmu selalu penuh Setan yang akan menanti dikebangkitanmu dan bukannya Akal Sejati-mu, di rumah berhala dan bukannya di Ka'bah.

Ketika engkau berpuasa, akhlak yang baik berkumpul di sekitarmu, bagaikan pembantu, budak dan penjaga.

Teruskan lah berpuasa, karena ia adalah segel Sulaiman. Jangan serahkan segel itu kepada Setan, yang dapat membuat kerajaanmu kacau.

Dan jika sempat kerajaan dan bala-tentaramu tinggalkan dirimu, mereka akan kembali, jika kau tegakkan lagi panjimu dengan berpuasa.

Hidangan dari langit, al-Maidah, telah tiba bagi mereka yang berpuasa. Isa ibn Maryam telah menurunkannya dengan do'anya.

Tunggu lah Meja Perjamuan, al-Maidah, dari Yang Maha Pemurah dengan puasamu: sungguh tak pantas membandingkan hidangan dari langit dengan sederhananya sup sayuranmu.

Catatan:
"Al-Maidah" nama surat ke 5 dari al-Qur'an Suci, menyampaikan rujukan terkait bahasan di atas, pada ayat-ayat:

(112) (Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan maidah dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".

(113) Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".

(114) Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu maidah dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rzekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".

(115) Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".

Sumber:
Jalaluddin RumiDivan-i Syams ghazal 1739.
dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh William C. Chittick dalam "The Sufi Path of Love" SUNY Press, Albany, 1983.

dan dari terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A.J. Arberry dalam "Mystical Poems of Rumi 2" The University of Chicago Press, 1991.

 

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post