Puisi Jalaluddin Rumi Tentang Bernyala Tanpa Bayangan


Ketika melalui kefakiran ruhaniyah seseorang dirahmati dengan kematian dari dirinya sendiri, meneladan sang Nabi saw; dia kehilangan bayangannya.

Menjadi fana, sesuai sabda sang Nabi, "kefakiran adalah kebanggaanku."

Dia jadi tak memiliki bayangan, bagaikan nyala sebatang lilin.

Ketika lilin telah seluruhnya menyala dari kepala sampai ke kaki, bayangan tak dapat menghampirinya.

Sang lilin telah berpisah dari dirinya sendiri dan dari bayangannya menuju terang benderang, demi Yang Tunggal, yang telah menciptakannya.

Ketika kepadanya Tuhan berkata, "Kubentuk engkau agar fana;" dia menjawab, "Karenanya aku berlindung didalam fana."

Catatan:
Fana: secara ringkas berarti sirnanya keakuan diri dalam Wajah Rabb, lihat QS [55]: 26-27.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi V: 672-676
Berdasarkan terjemahan Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi: Jewels of Rememberance, Threshold Books, 1996; berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monasra.


Istimewanya Al-Fatihah


Al-Fatihah itu istimewa didalam menarik kebaikan dan menghindarkan kejahatan.

Jika apa saja selain Tuhan tampil padamu, itu dampak dari khayal-Nya; dan jika apa saja yang selain Tuhan lenyap dari pandanganmu, itu karena dibangunkan-Nya engkau kepada apa yang haqq.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi VI: 3355-3356
Terjemahan Camille dan Kabir Helminski dalam Rumi: Jewels of Rememberance" Threshold Books, 1996

Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama