Mereka Yang Di Seret Al Jannah Puisi Jalaluddin Rumi


Sang Nabi mendapati serombongan tawanan; merintih-mengerang ketika mereka dibariskan.

Sang Panglima melihat mereka terikat rantai; mereka pun memandang kepada beliau, penuh tanda tanya.

Setiap tawanan menggeratakkan giginya, menggigit bibirnya, penuh kekesalan kepada Sang Pemenang.

Sungguhpun penuh kemarahan, mereka tak berani mengucapkan sepatah kata pun: mereka diikat rantai yang berat.

Para pengawal membariskan mereka masuk kota: para tawanan ini adalah kaum kafir.

Mereka saling mengguman satu sama lain: "Dia tidak akan menerima emas atau tebusan apa pun, tidak akan ada pangeran yang akan membebaskan kita. Dia menyeru dunia agar bersikap pemaaf, tapi dia akan memotong leher kita semua."

Dengan aneka perasaan berkecamuk, mereka digelandang; penuh kecemasan, menunggu keputusan Sang Pemimpin.

Mereka berkata: "Sungguhpun sebelum ini kita berhasil lolos dari aneka kesulitan, kali ini tiada jalan keluar bagi kita: hati orang ini seteguh karang.

Jumlah kita lebih besar dan pasukan kita seberani singa, sementara musuh kita tak lebih dari dua-tiga orang kurus-kering dan nyaris mati kelaparan,

Bagaimana bisa kita dikalahkan seperti ini: mestilah ini karena kesalahan kita di masa lalu, atau bintang kita sedang suram, atau jangan-jangan karena sihir?

Keberuntungannya menjungkir-balikkan keberuntungan kita; disungkurkannya tahta kita.

Jika keperkasaannya karena sihir, kita pun memakai sihir: mengapa sihir kita tidak berhasil?"

Sungguhpun para pengawal tidak mendengar kata-kata mereka, tidaklah itu lolos dari telinga yang mendengar dari kehadiran-Nya.

Harumnya jiwa Yusuf tak terendus oleh mereka yang menawannya, tetapi Ya'qub menciumnya.

Setan-setan yang ingin mencari berita dari langit tidak mendengar rahasia dari Catatan yang Terjaga.

Tetapi ketika Muhammad SAW berbaring dan tertidur, rahasia mereka datang dan berkumpul bersama beliau.

Bintang cemerlang menjadi penjaga dan mengusir para setan, sambil berkata: "Jangan mencuri dan terimalah rahasia dari Muhammad."[1]

Wahai mereka yang takut kurang rezeki dan karenanya berdagang sejak fajar, pergilah ke masjid dan carilah bagianmu yang Allah sediakan.

Sang Nabi saat itu memahami ucapan mereka, lalu berkata, "Tertawaku tadi tidak berasal dari kekejian.

Dalam pandanganku mereka itu sudah mati dan membusuk: bukanlah tindakan orang yang benar, membunuh mereka yang sudah mati.

Memangnya siapa mereka? Telah terbelah Bulan ketika kujejakkan kaki ke medan perang.

Ketika kalian masih bebas dan kuat, telah kulihat kalian terbelenggu rantai seperti ini.

Wahai orang-orang yang membanggakan banyaknya harta dan anak, dalam pandangan pemilik Akal Sejati, kalian tidak lebih daripada unta renta.

Sejak piala terjatuh dari atap,[2] telah jelas bagi mata batinku hakikat yang dikemas dalam sabda: 'Semua hal yang sudah ditetapkan pastilah terjadi.'

Pada buah anggur mentah, telah jelas kulihat cairan anggur apa yang akan terbentuk; kulihat pada sesuatu yang belum mewujud dan kusaksikan wujudnya dengan jelas.

Kulihat pada kesadaran terdalam, dan kutatap sebuah semesta tersembunyi, sementara Adam dan Hawa belumlah lagi dibangkitkan di semesta yang ini.

Telah kulihat kalian, dirantai, kalah dan putus-asa, ketika umat manusia berbaris bagaikan semut pada Hari Perjanjian.[3]

Ketika kemudian diciptakan lelangit tanpa pilar, tidaklah itu menambah kepada apa yang telah kuketahui.[4]

Telah kulihat kalian tersungkur, sebelum jasadku dibentuk dari tanah dan air.

Tak kulihat sesuatu yang baru, yang karenanya pantas aku bergembira: telah kulihat hal yang sama selama kemakmuranmu dahulu.

Terikat kepada rantai Kemurkaan--sungguh itu Kemurkaan yang Mengerikan--seperti kalian itu memakan gula yang mengandung racun.

Apakah kalian akan iri kepada musuh yang memakan gula beracun?

Dan kalian memakan racun itu dengan senang, sementara Kematian secara rahasia telah menggenggam ke dua daun telinga kalian.

Tidaklah aku berperang untuk memperoleh kemenangan dan menguasai dunia.

Karena dunia ini adalah tulang-bangkai yang menjijikkan: bagaimana mungkin aku menginginkan bangkai seperti itu.

Bukanlah aku anjing yang berebut bangkai: Aku bagaikan Isa yang datang untuk membangkitkan yang sudah mati.

Kuterjang musuh di medan perang dengan tujuan untuk membebaskanmu dari kehancuran.

Tidaklah aku memenggal untuk mendapatkan kemenangan dan kekuasaan atau untuk menambah jumlah pengikut.

Jika ada yang dipenggal, itu agar seluruh umat manusia dapat dibebaskan dari tenggorokan mereka.

Karena kebodohan, kalian semula melesat menuju Api, bagaikan serangga. Sementara sekuat tenaga aku mencegah kalian terjatuh ke dalam Api.

Yang kalian pandang sebagai kemenangan sebenarnya adalah kalian menebar bibit kehancuran diri sendiri.

Kalian saling seru-menyeru dengan bersemangat untuk memerangiku, sebenarnya itu bagaikan kalian sedang memacu kuda-kuda kalian ke arah seekor naga.

Kalian berusaha mengalahkanku, sementara sebenarnya dengan tindakan itu kalian dikalahkan oleh Sang Waktu."

Catatan:
[1] (QS [67]: 5)

[2] Artinya, "sejak hancurnya ilusi bahwa semesta fisikal ini adalah satu-satunya eksistensi."

[3] QS [7]: 172

[4] "Dia menciptakan lelangit tanpa pilar ..." (QS [31]: 10).

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi III 4473-4485, 4528-4560
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama