Lintasilah Kedua Alam Puisi Jalaluddin Rumi


Saat, dari berbagai arah, himbauan Sang Kekasih menyerumu.

Ke al-Jannah seyogyanya kita menuju: tak elok jika ke alam-dunia ini hanya untuk berjalan-jalan.

Pernah kita disana, bersobat dengan para malaikat.

Karenanya, wahai pejalan, mari kita kembali kesana, itulah tempat kita yang sebenarnya.

Bahkan semestinya, lebih tinggi daripada Taman itu; hakikinya, insan sejati itu lebih tinggi daripada malaikat.

Mengapa ke dua alam ini[1] tak segera kita lintasi saja? Tujuan kita adalah keagungan puncak.

Sungguh berbeda sumbernya: alam tanah-liat ini, dengan inti cahaya insan.

Memang dulu kita telah diperintahkan turun,[2] kini mari kita bergegas naik, mengapa berlama-lama disini.

Segarnya keberuntungan adalah sahabat kita: berserah-diri adalah keahlian kita.

Pemandu kafilah kita adalah Mushthafa: kecintaan alam semesta.

Manis-harumnya hembusan ini, bersumber dari ikal rambutnya.

Jernihnya ilham ini, bersumber dari pipinya, yang bagaikan, "demi waktu dhuha."[3] Karena kilau pipinya, rembulan terbelah: malu menatapnya.

Sungguh beruntung rembulan itu, menjadi sosok pengemis yang merendah.

Tataplah "terbelahnya rembulan"[4] yang berlangsung terus-menerus pada qalb kami.

Itulah sebab turunnya penglihatan khusus tersebut ke bashirah-mu.

Ketika dahulu datang serun: "... bukankah demikian?" maka bahtera dirimu pun remuk.[5]

Jika nanti sekali lagi bahteramu remuk, maka saat penyatuan tiba.

Insan itu bagai unggas-laut, sumbernya dari laut, Laut Jiwa.[6]

Muncul dari Laut, mengapakah Elang Sang Raja[7] menjadikan alam-dunia ini rumahnya?

Bahkan sejatinya, insan itu Mutiara Laut,[8] di dalam Laut lah tempatnya.

Itulah sebabnya, gelombang demi gelombang menderu dari Laut Jiwa.

Jelanglah saat dicapainya penyatuan, jelanglah kecantikan yang abadi.

Jelanglah anugerah dan kelimpahan, yang bersumber dari Samudera Kemurnian.

Gemuruh kelimpahan telah muncul, gelegar dari Laut telah tiba.

Fajar perahmatan telah menyingsing. Bukan cahaya pagi biasa, melainkan Cahaya Rahmat-Nya.[9]

Siapa sebenarnya sosok kasat-mata ini? Siapa sebenarnya pangeran dan bangsawan itu? Siapa sebenarnya ahli hikmah tua itu? Mereka semua adalah hijab! Dan obat dari bermacam-macam hijab adalah lebur: musnah![10]

Pancuran sumber kekeringan ini berada di dalam kepalamu dan di dalam matamu sendiri.

Sebenarnya kau miliki dua buah kepala. Kepala yang terbuat dari tanah-liat, telah kau pahami; yang ke dua adalah Kepala Sejati, dari Langit sumbernya.[11]

Kepala Sejati sebagian besar manusia tersembunyi, berserakan, di balik tanah-liat.

Mestilah suatu hari kau pahami, Kepala yang pertama bergantung kepada Kepalamu yang Sejati.

Kepala yang Sejati tersembunyi, dan yang tampak ini hanyalah bayangannya.

Ketahuilah, di balik alam-dunia ini terdapat semesta tak-terbatas.

Satukan dirimu. Wahai Sang Pembawa Cawan,[12] tuangkan anggur dari kendi kami:[13] Jika tiba wahana pemahaman, maka semua ini jelas sekali bagimu.[14]

Dari arah Tabriz bersinar Cahaya Haqq, dan aku berkata kepadanya: "Cahayamu itu menyatu dengan segala sesuatu, sekaligus ia terpisah dari mereka semua."[15]

Catatan:
1) Alam-dunia yang kasat-mata dan alam-malakut, semesta untuk jiwa.

2) Penghulu kita, Adam dan Hawa diturunkan dari al-Jannah ke Bumi.

3) QS [93]: 1.

4) QS [54]: 1.

5) QS [7]: 172: "... bukankah demikian?" ditanyakan saat itu kepada jiwa; dan jiwa insan menjawab, "... kami bersaksi ..."

6) Hakikat Insan adalah jiwanya. Warga dari alam-malakut, "sebuah samudera tanpa pantai," kata seorang Sufi.

7) Lihat "Kisah Elang Sang Raja"

8) Hakikat Kesejatian yang ada di inti qalb-nya, yang jika itu ditemukan kembali, akan mengembalikannya menjadi "sebaik-baik ciptaan." (QS [95]: 4)

9) "... Rahmat-Nya dalam dua bagian ..." (QS[57]: 28).

10) Aspek "Wajah" Rabb yang agung dan mulia itu baru tampil ketika insan itu lebur-musnah, fana' billah (QS [55]: 26-27.

11) "Dua Kepala:" Kepala Raga, akal lahiriah, nalar rasional; dan Kepala dari Jiwa, akal dari qalb, atau Lubb.

12) Guru Sejati.

13) Menuangkan "anggur spiritual" sehingga para muridnya dapat lebur-musnah, fana' ; agar mereka dapat melewati hijab-hijab: semesta, makhluk, dan hawa-nafsu mereka sendiri.

14) Dan kebalikannya, "jika belum paham memang tidak ada yang bisa memberi-tahu."

15) Paradoks yang khas alam-malakut: menyatu sekaligus terpisah; bergabung dengan seluruh semesta sekaligus tak menghilangkan identitas individual.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz
Ode no 9 pada terjemahan Nicholson: Divan-e Shams-e Tabriz. IBEX Publishers, Inc, 2001 (cetak-ulang peringatan 100 tahun karya perintis terjemahan Divan Rumi oleh Nicholson)

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post