Lari Dari Izrail Puisi Jalaluddin Rumi



Suatu pagi, ke majelis Nabi Sulaiman as, yang sedang berada di gedung pengadilan, masuklah seorang bangsawan, berlari, tergopoh-gopoh. Wajahnya pucat karena sedih, bibirnya membiru.

"Sakitkah engkau, Khwajah?" tanya Sang Raja.

Ia menjawab, "Ketika Izrail melemparkan pandangan kepadaku, dia penuh amarah dan kebencian."

"Nah, sekarang katakan apa yang engkau inginkan?"

"Wahai pelindung hidupku, kumohon padamu, perintahkanlah angin membawaku langsung ke India: semoga sesampainya disana, jiwa hambamu ini selamat dari kematian."

Wahai, betapa banyak orang berlomba-lomba, melarikan diri dari kemiskinan; malah terjatuh mereka kedalam rahang serakah dan panjang angan-angan.

Ketakutanmu akan kemiskinan bagaikan kengerian orang itu: ketahuilah, keserakahan dan panjangnya angan-anganmu adalah India dari kisah ini.

Nabi Sulaiman memerintahkan angin segera membawanya melintasi samudera, ke pedalaman India.

Keesokan harinya, dalam sidang musyawarah, Sang Raja bertanya kepada Izrail as, "Ketika engkau memandang dengan marah kepada si Muslim itu, apakah agar dia segera melarikan diri, menjauh dari rumahnya?"

Izrail menjawab, "Bukan, bukan marah, ketika kujumpa dia kemarin, aku terperangah heran. Karena Tuhan telah memerintahkan agar hari ini kucabut nyawanya di India.

Sampai kuberkata sendiri, 'Kalaupun padanya tumbuh seratus sayap, tetap saja sampai di India hari ini terlalu jauh baginya.'"

Pertimbangkanlah semua urusan dunia ini dengan keseksamaan seperti itu. Bukalah matamu, dan tataplah baik-baik.

Dari siapa kita ingin melarikan diri?
Dari diri kita sendiri? Sungguh itu mustahil!
Dari siapa kita ingin melepaskan diri?
Dari Tuhan? Sungguh itu suatu kejahatan besar!

Sumber:
Jalaluddin RumiMatsnavi I: 956 – 970
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post