Puisi Jalaluddin Rumi Lemparkanlah Tongkat Mu


Sang Raja nan Maha Indah dan Penyayang telah berkenan menerimaku. Dia Sang Saksi cahaya hati, Sang Penyejuk dan Sahabat jiwa, Ruh bagi segenap semesta.

Kujumpai Dia yang telah menganugerahkan hikmah kepada para bijak-bestari, kemurnian kepada orang-orang suci.

Dia yang dipuja rembulan dan bintang-bintang. Dia yang kepadanya menghormat sekalian wali.

Seluruh sel pada diriku berseru: Alhamdulillah, Allahu Akbar.

Ketika Musa melihat pohon yang menyala,[1] dia berkata: "setelah menemukan anugerah ini, tak lagi kubutuhkan sesuatu yang lain."

Tuhan berkata, "Wahai Musa, penjelajahanmu telah selesai. Lemparkanlah tongkatmu."[2]

Pada saat itu Musa mengenyahkan dari hatinya semua teman, saudara, dan kerabat.

Inilah makna dari tanggalkan ke dua terompahmu:[3] Hilangkan dari hatimu hasrat akan sesuatu pun di kedua alam.

Sejatinya, ruang qalb itu diperuntukkan bagi-Nya semata. Hanya akan kauketahui hal ini melalui pertolongan para nabi.

Tuhan berkata, "Wahai Musa, apa itu yang engkau pegang di tangan kananmu?"[4]

Musa menjawab, "Ini tongkatku, untuk membantuku berjalan."[5]

Tuhan berkata, "Lemparkanlah tongkatmu, dan perhatikanlah[6] keajaiban di dalam dirimu sendiri."

Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, dan tongkat itu berubah menjadi seekor naga. Langsung Musa lari ketakutan.[7]

Tuhan berkata, "Pungutlah kembali, dan akan Kuubah dia[8] menjadi tongkat lagi. Dengan berkah-Ku, musuh-musuhmu akan memberimu pertolongan. Musuh-musuhmu akan berupaya meraih persahabatanmu."

Wahai tangan, tetaplah berupaya meraih-Nya. Wahai kaki, tetaplah berjalan kepada-Nya.

Janganlah lari dari ujian yang Kami berikan padamu. Karena ketika kau jumpai kesulitan, disitu akan kau jumpai sarana untuk memahami maksudnya.

Tak ada seorangpun yang berhasil lolos dari kesulitan, kecuali terjadi kepadanya hal yang lebih buruk.

Jangan makan umpannya! Bala-bencana menantimu. Jangan menyerah pada keraguanmu! Itu akan melemparkanmu dari Jalan.

Kini, Matahari dari Tabriz telah memberi kita pertolongan: dia telah pergi, dan tinggalkan kita sendiri.

Catatan:
[1] QS Al Qashash [28]: 30.

[2] QS Al Qashash [28]: 31, Thaahaa [20]: 19.

[3] QS Thaahaa [20]: 12.

[4] QS Thaahaa [20]: 17.

[5] QS Thaahaa [20]: 18.

[6] QS Thaahaa [20]: 19.

[7] QS Thaahaa [20]: 20.

[8] QS Thaahaa [20]: 21.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Kulliyat-e Syams, Ghazal no 123 Badi-uz Zaman Furuzanfar (Ed.)

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Jonathan Star, dalam In the Arms of the Beloved, Jeremi P. Tacher/ Penguin, 1997.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama