Kisah Elang Sang Raja Puisi Jalaluddin Rumi


Alkisah, terbanglah seekor elang, meninggalkan istana Raja, sampai dia tersesat ke rumah seorang nenek tua; yang sedang mengaduk tepung, di lantai rumahnya.

Si nenek sedang menyiapkan makanan bagi anak-anaknya, ketika dilihatnya elang ningrat yang anggun itu.

Segera kaki elang itu diikatnya, dipangkasnya sayapnya, dipotongya cakarnya, dan diberinya jerami untuk makanan.

“Pastilah orang salah merawatmu,” katanya, “sayapmu terlalu lebar, dan cakarmu panjang.”

“Itulah sebabnya engkau sakit, dan kini aku akan merawatmu.”

Ketahuilah sahabat, demikianlah cara orang bodoh memperlakukanmu: orang bodoh sesat jalan.

Sang Raja mencari elangnya kesana kemari, sampai akhirnya dia sampai ke gubuk si nenek. Dilihatnya elangnya disitu, dibalik asap dan debu, keadaannya sangat menyedihkan.

Sang Raja berkata, “ini adalah ganjaran dari perbuatanmu, engkau tidak teguh dalam bersetia kepadaku.”

“Mengapakah engkau tinggalkan Taman dan tinggal dalam Api ini; apakah tak kau simak: ‘dan tidaklah sama antara penghuni an-Naar dengan penghuni al-Jannah.’ ”[1]

Ini adalah ganjaran yang tepat, bagi mereka yang tanpa sadar telah meninggalkan keakraban dengan Sang Raja; malahan tinggal di rumah sang nenek tua.

Si elang menggosokkan sayapnya ke tangan Sang Raja; dia berujar tanpa kata, “Aku telah berdosa.

Wahai Sang Raja nan Pemurah, jika tak kau terima sesuatupun, kecuali hal-hal yang baik, maka kemanakah seorang pendosa memohon, kepada siapakah merintih?”

Kemurahan Sang Raja menarik hati jiwa yang sarat dosa, karena Sang Raja mengubah semua hal buruk menjadi indah.

Hindarilah berbuat buruk, karena, bahkan amal terbaik kita pun tampak buruk di hadapan kecantikan Sang Kekasih.

Jika kau anggap pengabdianmu berharga, telah kau kibarkan bendera dosa.

Janganlah engkau mengandalkan puja-puji dan do’amu, karena itu dapat membuat hatimu angkuh.

Kau anggap dirimu telah langsung bicara dengan Rabb: wahai, tak terhitung jumlahnya mereka yang terpelanting menjauh dari Rabb karena prasangka ini.

Sungguhpun Sang Raja sama-sama duduk bersamamu di lantai, tahu dirilah: duduklah dengan takzim dan merendahkan diri.

Sang Elang berkata, “Wahai Raja, aku insyaf, aku kembali, kuperbarui keislamanku.

Mereka yang mabuk karenamu, lalu menabrak kesana kemari, tak lurus lagi jalan kembalinya, sudilah kiranya Engkau mengampuni.

Walaupun cakarku telah dipotong, ketika Engkau milikku, akan kurobek genggaman sang matahari.

Walaupun sayapku telah dipangkas, ketika Engkau menerimaku, lengkung langit melambat karena takjub kepada kecepatan terbangku.

Jika engkau anugerahi aku sebuah sabuk, gunung kan kucabut; jika engkau anugerahi aku sebatang pena, kan kupatahkan tiang-tiang bendera.

Bagaimanapun, tubuhku ini tidaklah kalah jika dibandingkan dengan serangga itu: dengan sayapku ini akan kutantang kerajaan Namrud.

Kalaupun tubuhku selemah burung-burung ‘ababiil, dan lawan-lawanku setangguh armada gajah,

Jika kulempar tanah-liat panas, sebesar biji kenari, bagi mereka itu bagai seratus rudal ballista”

Musa berperang bersenjatakan sebatang tongkat, menundukkan Fir’aun dengan bala-tentara berpedang.

Setiap nabi berjuang dengan hanya mengandalkan pertolongan Rabb: berperang seorang diri, mengalahkan seluruh dunia. Ketika Nuh memohonkan kepada Rabb-nya sebilah pedang, dengan perintah-Nya, gelombang banjir menjadi pedang murka-Nya.

Apakah artinya tentara Bumi bagi seorang Muhammad? Ditatapnya rembulan di langit, yang lalu terbelah.[2]

Agar para ahli nujum yang jahil menyadari tentang masa umat mereka, dan dimulainya masa umat Sang Rembulan.

Terbelah itu tentang selesainya masa umat mereka; karena bahkan Musa kalamullah a.s, takjub akan umat Sang Rembulan.

Ketika Musa melihat cemerlangnya cahaya umat Muhammad, yang memancar ketika terbit fajar Hari Agama.

Dia berkata, “Yaa Rabb, umat siapa itu, yang begitu dirahmati? Bahkan tak terperikan oleh rahmat: pada umat itu terdapat visi akan Engkau?”

Lemparkanlah ke-Musa-anmu dalam samudera Sang Waktu, dan tampillah di tengah umat Muhammad.

Rabb bersabda, “Wahai Musa, Ku-perlihatkan tentang mereka kepadamu, agar bagimu terbuka jalan penyatuan spiritual dengan Muhammad,

Karena masamu ini, yaa Kalim, terpisah jauh dengan masa Muhammad, tidaklah itu terjangkau olehmu: tariklah kembali kakimu, selimut masa ini terlalu panjang bagimu.

Dalam kasih-Ku, Kuperlihatkan sepotong roti bagi abdi-Ku, agar kehendak akan itu akan menghidupkan rintihannya.

Bagai seorang ibu yang menyentuh hidung bayinya, agar dia terbangun dan segera mencari makanan,

Karena sang bayi dapat tanpa sadar tertidur dalam keadaan lapar; Ketika bangun, segera sang bayi menuju payudara ibunya, untuk mendapat susu.

Aku adalah sebuah Khazanah, sebuah Rahmat Tersembunyi, karenanya Kukirimkan seorang Imam yang terpandu dengan Haqq.”

Semua kemurahan Ilahiah yang kau cari dengan segenap dirimu; Dia memperlihatkannya padamu, agar engkau mendambakannya.

Berapa banyak berhala Muhammad hancurkan, agar umat dapat memohon, “yaa Rabb, yaa Rabb!”

Tanpa upaya Muhammad itu, engkau--seperti para penghulumu-- akan menyembah berhala.

Kepalamu itu telah diselamatkan dari menyembah berhala, agar engkau dapat ikut bersama sekalian umat mengaku berhutang-budi kepadanya.

Jika engkau berbicara, nyatakanlah terimakasihmu kepadanya, bahwa engkau telah diselamatkan: agar diselamatkannya pula engkau dari berhala di dalam dirimu.

Kepalamu memang telah diselamatkan dari tunduk kepada berhala; tapi adakah telah kau peroleh kekuatan darinya, agar qalb-mu juga selamat?

Kau lupa berterimakasih kepada ad-Diin, karena kau peroleh itu secara cuma-cuma, warisan dari ayahmu.

Orang yang memperolehnya sebagai warisan takkan menghargainya.

Seorang Rustam mengalami derita yang hebat untuk mendapatkannya; tak bisa itu dibandingkan seorang Zal yang tanpa-usaha memperolehnya.

“Ketika Kusebabkan seseorang merintih, maka bangkitlah Rahmat-Ku: yang menjerit itu akan meminum anugerah-Ku.

Jika Aku tak berkehendak memberi sesuatu, takkan hal itu Kuperlihatkan kepada sang hamba; tapi ketika telah kuciutkan qalb-nya dengan kesedihan, maka akan Kuluaskan dengan kegembiraan.

Rahmat-Ku bergantung pada tangisan yang haqq: ketika air-mata yang benar menitik, bangkit menjemput gelombang samudera Rahmat-Ku.”

Catatan:
[1] “Dan tidaklah sama ashabun-Naar itu dengan ashabul-jannah ...” (QS [59]: 20)

[2] “Telah dekat as-Saat dan telah terbelah rembulan” (QS [54]: 1).

“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, ‘Telah terbelah bulan pada zaman Nabi saw menjadi dua, maka Nabi saw bersabda, ‘Saksikanlah’.”(HR. Bukhari 3636,3869 dan Muslim 2800).

Sikap si nenek-tua disini memperlihatkan kebodohan pencinta dunia, sehingga sang elang (jiwa insan) merana terpenjara di dalam raganya sendiri; sehingga tak bisa lagi terbang bebas mengembara ke alam malakut--habitat sejatinya.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi II: 323-375
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama