Mengkaji Cahaya Di atas Cahaya Jalaluddin Rumi's poetry


Mengkaji Cahaya Di atas Cahaya


Sang Mustapha bertutur tentang permohonan Neraka, ketika dengan berendah-hati dia bermohon kepada pemilik iman sejati: "berlalulah dengan cepat, wahai Sang Raja, karena cahayamu telah memadamkan apiku."

Jadi, terang cahaya al-Mukmin berarti padamnya api, karena tanpa tanpa tampilnya yang berlawanan tak mungkin sesuatu sirna.

Pada Hari Perhitungan, api akan menjadi lawan cahaya, karena api bersumber dari Murka-Nya, sementara cahaya dari Rahmat-Nya.

Jika engkau ingin tanggalkan api kejahatan, tujukan air Rahmat Ilahiah ke jantung api.

Mereka yang bertakwa dengan haqq memancarkan aliran air rahmat itu: inti jiwa mereka yang bertakwa adalah Air Kehidupan.

Tidak heran engkau yang berjiwa duniawi lari menjauh dari orang seperti mereka, karena engkau tersusun dari api, sementara mereka dari aliran air.

Api melarikan diri dari air, karena takut nyala dan asapnya dipadamkan oleh air.

Pikiran dan perasaanmu terbentuk dari api; pikiran dan perasaan orang suci tersusun dari cahaya yang indah.

Ketika percikan cahaya orang suci menetes di atas api, terdengar suara berdesis, dan lidah api menjilat dengan murka.

Ketika datang saat seperti itu, katakanlah, "mati dan musnahlah engkau," agar padam neraka itu, yaitu api hawa-nafsumu.

Sehingga ia tak membakar taman mawarmu, sehingga ia tak membakar keadilan dan hasanah-mu.

Setelah berhasil engkau padamkan, barulah bibit yang engkau tanam dapat menghasilkan aneka buah, atau memekarkan bermacam bunga.

Wahai Guru tuturmu melantur, mengapa kau tak kembali ke pokok perbincangan?

Kita sedang memperlihatkan melanturnya dirimu, wahai pemendam iri-dengki; tak kau sadari, keledaimu pincang, sedangkan kota cahaya sangatlah jauh, alangkah lambat jalanmu.

Telah sekian tahun kita habiskan; sudah hampir lewat masa tanam; tak ada hasil panenmu, kecuali wajahmu yang menghitam, dan amalmu yang berbau busuk.

Cacing telah bersarang, di akar pohon dirimu: galilah dan bakarlah.

Kuperingatkan lagi, wahai pencari, waktu telah hampir habis, hari telah senja, matahari jelang tenggelam.

Hanya tersisa satu dua hari lagi, ketika masih tersisa kekuatan pada dirimu, kepakkan sayapmu dengan bersemangat.

Manfaatkanlah baik-baik sisa benihmu, agar dari bibit-waktu yang sedikit itu dapat tumbuh pohon abadi.

Sementara lampu hidupmu belum padam, kecilkanlah sumbunya, dan jagalah minyaknya.

Jangan lagi engkau berkata, besok, besok; sudah terlalu banyak besokmu yang terlewat. Jangan sampai tiada hari tanam tersisa.

Dengarkanlah nasehatku, jasmanimu itu yang mengikatmu, tanggalkan jasmanimu rentamu, jika kau inginkan pembaruan.

Tutup mulutmu, dan bukalah buah berisikan emas: tanggalkan keakuanmu, perlihatkan kemurahanmu.

Kemurahan berarti meninggalkan syahwat dan hawa-nafsu; orang yang tenggelam dalam hawa-nafsunya, sulit mentas lagi.

Kemurahan adalah salah satu cabang cemara di al-Jannah: malang lah orang yang tak berpegangan pada cabang semacam itu.

Menanggalkan hasratmu adalah pegangan yang paling kuat: cabang itu menarik jiwamu ke Langit.

Karena itu jadilah pemurah, wahai penganut ad-Diin, sehingga terangkat engkau ke sumber cabang itu.

Jadikan Yusuf yang cantik sebagai teladan keindahan jiwamu, perlakukan alam-dunia ini sebagai sumur, gunakan kemurahan dan keberserahan kepada karsa Rabb sebagai tali untuk mentas ke atas.

Wahai peneladan keindahan Yusuf, tali telah diturunkan, raihlah dengan ke dua belah tanganmu; jangan kau lepaskan, karena hari telah larut.

Berpujilah kepada-Nya ketika tali telah terjulur; itu dari semesta yang sangat nyata, tapi tak nampak.

Semesta fenomenal ini, sebenarnya hanya wujud yang mungkin, tapi telah menjadi sangat nyata bagimu, sementara semesta yang sejati, semakin tersembunyi.

Seperti debu bertaburan dipermainkan angin, bagaikan fatamorgana yang menghijab.

Yang tampak ramai ini sejatinya hampa dan dangkal, bagai bebauan; yang tersembunyi itulah inti dan sumbernya.

Debu hanya tanda dari adanya angin: angin itulah yang bernilai, dan tinggi derajatnya.

Mata yang tersusun dari tanah-liat, hanya akan menatap debu; untuk melihat angin itu diperlukan penglihatan yang berbeda.

Seekor kuda mengenal kuda yang lain, karena mereka sejenis: hanya penunggang kuda dapat mengenali sesama penunggang.

Yang dimaksud dengan kuda itu adalah mata syahwatiah, sedangkah sang penunggang adalah Cahaya Ilahiah; tanpa sang penunggang, kuda itu sendiri tak berguna.

Karena itu latihlah kudamu, agar dia sembuh dari kebiasaan buruknya; jika tidak, dia akan tertolak dari majelis Sang Raja.

Penglihatan si kuda mendapati jalan, bersumberkan pandangan Sang Raja; tanpa pandangan Sang Raja penglihatan si kuda kehilangan panduan.

Penglihatan si kuda akan selalu menolak panduan, kecuali ke arah makanan dan padang rumput.

Cahaya Ilahiah itu yang seyogyanya jadi penentu arah bagi penglihatan si kuda, barulah jiwa dapat merindu Rabb.

Tidaklah mungkin kuda tanpa pengendara dapat membaca tanda-tanda jalan. Hanya penunggang bermartabat Raja dapat mengenali jalan Sang Raja.

Tempuhlah arah selaras dengan rasa-jati yang dikendarai oleh Cahaya, Cahaya itu pengendara terpercaya. Cahaya Ilahiah mengendarai cahaya rasa-jati, ini salah satu makna dari Cahaya di atas cahaya.

Sumber:Jalaluddin Rumi, Matsnavi II: 1248-1293
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama