Dengan Cinta Puisi Jalaluddin Rumi




Dengan cinta, dengan mahabbah, yang pahit jadi manis.

Dengan cinta, tembaga jadi emas.

Dengan cinta, yang keruh jadi jernih.

Dengan cinta, yang sakit jadi sembuh.

Dengan cinta, yang mati jadi hidup.

Dengan cinta, sang raja jadi seorang hamba.

Cinta, mahabbah, adalah buah pengetahuan. Tak pernah kebodohan dapat menaruh seorang pun di tahta itu.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi II 1529 – 1530
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski, dalam Rumi: Daylight, Threshold Book, 1994.

Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persia oleh Yahya Monastra.


Harta Karun Dibawah Rumah


Hancurkan rumahmu,[1] karena seratus-ribu rumah bisa dibangun dari bebatuan murah ini.

Harta-karun terletak di bawah rumah,[2] tiada jalan lain mencapainya: jangan ragu, hancurkan rumah, jangan berpangku-tangan saja.

Sekali kau raih harta-karun itu, mudah saja membangun ribuan rumah tanpa susah-payah.

Ketika sakaratul-maut tiba, rumah ini akan hancur dengan sendirinya, dan harta-karun dibawahnya pastilah takkan terungkap, maka harta-karun itu tak pernah kau dapat; karena jiwamu mendapat anugerah Ilahiah sebagai upah dari upayamu menghancurkan rumah.

Tanpa amal itu, tiada ganjaran: Tiada sesuatu pun dijumpai manusia di akhirat kecuali balasan dari amalnya.[3]

Catatan:
[1] Di alam-dunia ini jiwa ditempatkan dalam raga, itulah rumahnya. Sehingga "menghancurkan rumah" itu dapat dibaca: "menundukkan karsa raga dalam cahaya sunnah Muhammad SAW."

[2] Mengingatkan salah satu kisah sangat terkenal, yang direkam dalam ayat (QS [18]: 77) "... keduanya mendapatkan dalam negeri itu ada dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir menegakkan dinding itu ..;" menegakkan syariah bagi keperluan anak kecil (jiwa) yang diwarisi rumah itu. Ditekankan pula bahwa penegakkan syariah bagi perlindungan-pendewasaan jiwa haruslah tulus tanpa berharap diberi upah.

Ucapan, "... jika kau mau, niscaya engkau engkau mengambil upah untuk itu." (QS [18]: 77) adalah isyarat bagi Khidir a.s. untuk berpisah dengan Musa a.s. yang ketika itu sedang belajar darinya. Jika para pejalan membahas "harta-karun" itu berkaitan dengan "amanah" (QS [33]: 72) yang telah diterima "Perjanjiannya" (QS [7]: 172).

[3] "... dan disempurnakan kepada tiap diri balasan dari apa-apa yang diusahakannya ..." (QS [3]: 25)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi IV: 2540-2545
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Camille dan Kabir Helminski dalam Rumi: Jewels of Remembrance, Threshold Books, 1996.

Berdasarkan terjemahan dari Bahasa Persian oleh Yahya Monastra.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama