Dalam Dekapan Sang Kekasih Puisi Jalaluddin Rumi


Akhirnya, berangkat engkau, bertolak ke alam tak-kasat mata. Sungguh mengagumkan, caramu tinggalkan alam-dunia.

Kau kibaskan sayap dan bulumu, kau lepaskan diri dari sangkarmu. Mengangkasa engkau ke langit, kau capai alam jiwa.

Pernah engkau bagai elang ningrat, dikurung seorang wanita tua.[1] Lalu kau dengar genderang penyeru,[2] dan melesatlah engkau lintasi ruang dan waktu.

Sebagai burung bulbul yang merindu, pernah kau terbang bersama para burung hantu.[3] Ketika harum semerbak berhembus dari taman mawar, segera engkau bertolak, menjemput Sang Mawar.

Anggur dari alam fana ini,[4] terkadang membuat pening kepalamu. Akhirnya, kau masuki Kedai Keabadian. Bagaikan sebatang panah[5] melesat engkau dari busur, tepat menghunjam ke inti kebahagiaan.

Alam bayangan ini memberimu bermacam isyarat palsu. Tapi telah berpaling engkau dari maya, dan melangkah ke hadirat kesejatian.

Kini, engkaulah Sang Matahari,[6] tak lagi kau perlukan mahkota. Kau telah lenyap dari alam-dunia ini, tak lagi kau perlukan jubah.

Kini, tak perlu lagi kau menatap ke arah jiwamu, karena telah beranjak engkau menuju Jiwa Sejati.

Wahai qalb, engkau bagai burung indah nan langka, dalam jelajahmu menuju Yang Maha Rahman, kau kibaskan sayapmu bagai perisai:[7] patahlah tombak musuh-musuhmu.

Engkau bukanlah bunga biasa, tak kau takuti datangya musim gugur. Engkaulah mawar pemberani,[8] yang memekar di tengah bekunya musim dingin.

Mengucur deras bagai hujan dari langit,[9] tetesanmu mengguyur atap alam-dunia ini. Lalu menyebar engkau ke berbagai jurusan, kemudian menghilang melalui saluran air.

Kini, saatnya hening: telah usai masamu perih berlisan ragawi.[10]

Tak perlu lagi tertidur, sepenuh-penuh diri kini engkau berada dalam dekapan Sang Kekasih.

Catatan:
[1] Periksa "Kisah Elang Sang Raja,"

[2] Suara panggilan dari Sang Raja.

[3] Jati-diri sang pencari kesejatian takkan dikenali para pencinta dunia.

[4] Fenomena alam-dunia itu bayangan buram dari realitas sebenarnya yang tersembunyi. "Kedai Keabadian," wilayah Yang Tercinta.

[5] "Anak-panah," melambangkan "jiwa" sementara "busur" adalah raga.

[6] "Matahari," Sang Ruh yang tersembunyi dalam diri sang hamba.

[7] Sepasang sayap, "takut" dan "harap."

[8] "Mawar," melambangkan Akal Sejati, perangkat untuk memahami ilmu dan hikmah.

[9] "Air" disini melambangkan ilmu yang dibawa turun ke alam dunia ini oleh Insan Ilahiah.

[10] Kata selalu gagal menyampaikan realitas sebenarnya.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, Ghazal 3051 Ode no 48 pada Nicholson: Divan-e Shams-e Tabriz. IBEX Publishers, Inc, 2001 (cetak-ulang, peringatan 100 tahun karya perintis terjemahan Divan Rumi oleh Nicholson).

Juga dari Arberry: Mystical Poems of Rumi 2. The University of Chicago Press, 1991.

Juga dari Jonathan Star: In The Arms of the Beloved, Jeremy P. Tarcher/Putnam, New York 1997.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post