Bahkan Isa Putra Maryam pun Menyingkir Puisi Jalaluddin Rumi



Inilah kisah tentang Isa putra Maryam, ketika dia menghindar dari orang-orang dungu, menjauh, hendak mengungsi, ke puncak sebuah gunung.

Isa putra Maryam bergegas-cepat mendaki sebuah gunung. Sedemikian bergegas, bagaikan dikejar seekor singa.

Seseorang mengejarnya, dan menyapanya, “Salam untukmu. Tak kulihat sesuatu pun mengejarmu, mengapa engkau begitu terburu-buru?”

Tetapi Beliau tetap berlari, sedemikian terburu-buru, tak mau berhenti untuk menjawab.

Sang penanya bersikeras, terus dikejarnya Sang Nabi itu. Lalu, dia bertanya lagi, kali ini sampai harus berteriak:

“Demi Tuhan,” serunya, “berhentilah sebentar! Sungguh aku bingung, apa yang membuatmu melarikan diri?”

“Wahai Nabi nan mulia dan pemurah, Apa yang membuatmu bergegas-lari? Tak ada singa mengejarmu. Tiada pula ancaman atau wabah?”

Sang Nabi menjawab, “Aku melarikan diri dari seorang yang tolol. Pergilah! Sedang kukhawatirkan keselamatanku, janganlah kau tahan aku lagi!”

Orang itu bertanya lagi, “Tapi, bukankah engkau al-Masih,”[1] bukankah engkau yang menyembuhkan orang yang buta dan tuli?”

“Betul,” jawabnya.

Orang itu bertanya lagi, “Bukankah engkau Sang Raja Spiritual? Bukankah dalam dirimu tersimpan do'a dan permohonan dari alam tak-nampak?”

“Bukankah jika kau berdo'a pada sesosok mayat, dia langsung bangkit dengan trengginas, bagaikan gesitnya seekor singa menggondol korbannya?”

“Betul,” jawabnya, “Aku lah orang yang kau maksud.”

Orang itu masih penasaran, “Wahai tuan yang tampan, bukankah engkau yang menghidupkan burung dari tanah-liat?”[2]

“Betul,” jawabnya

“Wahai Ruh Murni, bukankah engkau bisa menjadikan apa pun yang kau kehendaki, lalu apa yang engkau takuti?”

“Dengan keajaiban sebanyak itu, siapa gerangan di kedua alam yang tak dengan suka-rela bersedia menjadi budakmu?”

Isa putra Maryam berkata, “Demi Allah yang Maha Suci, yang Menciptakan jasmani, dan Menciptakan jiwa, dengan semua keunggulannya.[3]

Demi Dzat Dia yang Suci dan Sifat-sifat-Nya, yang karenanya baju pelindung al-Jannah tanggal sampai ke pinggangnya, disebabkan takjub.

Aku bersaksi, bahwa do'a-do'a-ku itu, serta asma-Nya yang Teragung,[4] yang telah kuucapkan kepada mereka yang buta dan tuli; sangatlah manjur.

Jika kuucapkan dzikir itu ke sebuah gunung, akan terbelah dia, robek jubahnya sampai ke dasar.

Jika kuucapkan itu ke sesosok mayit, maka hiduplah dia. Kuucapkan itu kepada ketiadaan, maka menjadilah dia sesuatu.

Tetapi ketika kulantunkan do'a itu, ribuan kali, dengan penuh kasih-sayang ke hati seorang tolol, tidaklah itu menjadi obat.[5]

Malahan hati itu mengeras bagai batu, dan tetap membatu; lalu menjadi seperti pasir, yang di atasnya tiada satu benih pun bisa tumbuh.”

Dengan heran orang itu bertanya lagi, “Mengapa pada mujizat-mujizatmu, do'a dengan asma Allah itu manjur, sedangkan pada hati seorang tolol itu tidak berpengaruh? Bukankah itu suatu penyakit juga, bahkan suatu musibah?”

Nabi Isa menjawab, “Dungunya seorang tolol disebabkan murka Allah yang teramat-sangat. Musibah biasa seperti kebutaan tidak bersumber dari murka Allah, itu hanya ujian dan cobaan-Nya.”

Musibah berupa ujian dan cobaan, pada akhirnya mengundang Rahmat-Nya. Tapi kejahilan seorang tolol hanya membawa pukulan dan luka.

Luka-berparut itu bersumber dari tutupan-Nya,[6] tiada tangan penolong yang dapat mengobati.

Karenanya, menjauhlah dari orang tolol, sebagaimana Isa telah menghindar; persahabatan dengan orang jahil telah banyak menimbulkan pertumpahan darah.

Udara menguapkan air perlahan-lahan, orang tolol mencuri agamamu seperti itu.

Orang jahil mengganti kehangatanmu dan membuatmu menggigil kedinginan. Dibuatnya engkau dingin bagaikan batu.

Larinya Isa putra Maryam, bukan karena ketakutan biasa seperti kita, karena dia terlindungi dari hal-hal semacam itu. Tetapi demi memberi kita suatu pelajaran.[7]

Walaupun seluruh alam membeku, takkan itu membuat murung Matahari yang bersinar terang.[8]

Catatan:
[1] “Ingatlah ketika al-Malaikat berkata: 'Yaa Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakanmu dengan kalimah dari-Nya, namanya al-Masih 'Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan diakhirat, dan termasuk yang didekatkan.” (QS [3]: 45)

[2] “Dan sebagai utusan bagi Bani Israil, 'Sesungguhnya aku telah datang kepadamu membawa sebuah tanda dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untukmu suatu bentuk burung dari tanah-liat, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan padamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu' … “ (QS [3]: 49)

[3] Karenanya al-Malaikat diminta bersujud (QS [2]: 34)

[4] Asma-Nya yang Teragung (ismul-azham).
Secara umum nama “Allah” dipandang sebagai Nama Tuhan yang terbesar, karena menghimpun 99 asmaul-husna nama-nama Tuhan lainnya yang tak-terhingga. Boleh jadi yang dimaksud disini adalah mengenai ajaran sementara Sufi bahwa Allah mengizinkan sedikit diantara hamba-Nya yang terpilih untuk mengetahui Nama-Nya yang paling agung (dan paling tersembunyi); yang dengan menggunakan asma itu mereka melakukan mujizat (bagi para Nabi) dan karamah (bagi para Wali).

Terkait dengan ini Rumi mengisahkan tentang seorang tolol yang meminta Isa putra Maryam untuk mengajari “asma tersembunyiyang dengan itu engkau menghidupkan orang yang sudah mati” (Matsnavi II: 142). Karena si tolol ini ingin membangkitkan setumpuk tulang yang dilihatnya dalam sebuah gua. Setelah menerima izin Allah, Isa putra Maryam mengucapkan asma itu pada setumpuk tulang tersebut; seekor singa segera bangkit dari situ dan memakan orang tolol tersebut.

Pada catatannya, Nicholson menjelaskan bahwa “asma tersembunyi” itu maksudnya Nama Tuhan yang Teragung (ismu'llahi'l-a'zhamu); secara umum dipahami sebagai “Allah”, dimana “Huwa” (Dia sebagai Dzaat) terliput di dalamnya. Pengetahuan akan asma ini merupakan sumber dari daya yang menghasilkan mujizat dan karamah di kalangan para Nabi dan Wali, dan dapat ditransmisikan kepada mereka yang terpilih.

[5] Nicholson mencatat salah satu ucapan di kalangan Muslim, yang merujuk kepada Nabi Isa, “Walaupun aku dapat melakukan keajaiban menghidupkan orang yang sudah mati, aku tak berdaya menyembuhkan si tolol.” 

[6] “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika Allah mencabut pendengaranmu dan penglihatanmu, dan menutup qalb-mu, siapakah ilah selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu …” (QS [6]: 46)

[7] Pelajaran bagi manusia biasa sering disampaikan-Nya melalui kiprah para Nabi dan Wali yang sepenuhnya berserah-diri kepada-Nya. Dengan keakraban kepada Sang Pencipta dan melimpahnya pengetahuan Ilahiah yang dianugerahkan, para Nabi dan Wali adalah yang paling sering “hadir semata bersama-Nya saja” dalam shalat ataupun khalwat mereka. Justru pelajaran paling dasar ini yang sering terluput. Terpesona pada mujizat atau karamah, pelajaran malah sering terlewat.

[8] Isa putra Maryam a.s. Kalimah-Nya (realisasi Sabda-Nya), "yang terkemuka di dunia dan di akhirat," seorang Nabi besar bagi kaum Muslim, yang dianugerahi "Matahari Sejati" dalam diri.

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi III 2570-2599
Dari Mathnawi-ye Ma'nawi, terjemahan Ibrahim Gamard dari Bahasa Persia, dengan memeriksa terjemahan pertama ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Ketika Engkau Tak Memintal


Jangan tiru kelakuan laba-laba,[1] memintal jaring dari liur kesedihan. Dengking dan lenguh di dalamnya segera melapuk.

Mengaduhlah hanya pada-Nya, Sang Maha Pemberi. Dan jangan bahas hal itu lagi.

Ketika engkau sungguh diam, kau lantunkan sabda-Nya.

Ketika engkau tak memintal, Dia lah yang akan memintal untukmu.[2]

Catatan:
[1] "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba..." (QS [29]: 41).

[2] "...barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus..." (QS [2]: 256)

Sumber:
Jalaluddin Rumi, Matsnavi, buku dan nomor belum ditemukan.
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Annemarie Schimmel, dalam Look! This is Love-Poems of Rumi, Shambhala, 1996.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post