Pangeran Palsu Puisi Jalaluddin Rumi

 

Tengoklah kesini, ada Pangeran Palsu. Naik kuda kecil, diatas sadel kecil, lagaknya menyebalkan, bergaya memakai mahkota emas.

Karena tak percaya kematian, dia bertanya dengan angkuh, "Dimana, dimana, malaikat maut itu?"

Sebenarnya, Sang Maut senantiasa menyapanya, dari ke enam arah, seraya berseru, "Aku disini, aku disini."

(Pada saatnya) Sang Maut berkata kepadanya, "Wahai keledai, kemana sekarang derap penuh gayamu?

Kemana paras angkuh, bangga-diri, dan kemarahanmu?

Kemana berhala cantik sumber kebahagiaanmu?

Kepada siapa kau berikan mahkotamu, kini bantalmu gumpalan tanah, kasurmu dari tanah."

Kurangi makanmu, gulung kasurmu, carilah ad-Diin al-Haqq, agar kau menjadi Pangeran Keabadian, yang bebas pernak-pernik kecil adat dan kebiasaanmu.

Jangan kubur jiwamu, jangan ubah roti jadi kotoran, kemana akalmu: kau lemparkan mutiara ke dasar kotoran.

Ketahuilah, kita melekat ke tanah kotor ini semata agar menemukan mutiara tersebut; wahai diriku, tempalah jiwa, carilah sang mutiara, yang sangat berharga dan tersembunyi.[1]

Ketika kau bertemu Insan Ilahiah, jadilah ksatria: layanilah; ketika kau alami kepedihan dan guncangan, jangan berkeluh-kesah.

Wahai diriku, himbauan iblis kau indahkan, sambil kau hasratkan menjadi Pangeran itu: berapa lama lagi engkau terbolak-balik diantara sin dan syin?[2]

Syams al-Haqq at-Tabrizi, diri sejatimu adalah Air Kehidupan, siapakah yang dapat menemukan air itu, kecuali mata yang terbiasa berlinang?

Catatan:

[1] "Mutiara Hakikat" kesejatian insan, rahasia terbesar manusia; periksa judul : "Khazanah Tersembunyi",

[2] Permainan bunyi "sin" (Insan) dan "syin" (Syaithan): "apakah seseorang itu akan menjadi Insan Sejati atau pengikut Syaithan."

Sumber:

Jalaluddin Rumi, Divan-i Syamsi Tabriz, ghazal no 1317.

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh A. J. Arberry. Mystical Poems of Rumi 1, The University of Chicago Press, 1968.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post