Yang Tampak Dan Yang Tersembunyi Puisi Jalaluddin Rumi

 


Dia telah menjadikan yang nisbi eksistensinya tampil berwujud dan agung; Dia telah menjadikan yang lebih nyata eksistensinya tersembunyi bentuknya.

Dia telah menghijab Laut, dan membuat ombak tampak; Dia telah menyembunyikan Angin, dan memperlihatkan padamu debu.

Debu membubung setinggi menara: tak mungkin ia melayang sendiri.

Wahai yang berpandangan tajam, kau lihat debu melayang tinggi; sedangkan anginnya tak kau lihat, tapi kau ketahui adanya dengan akalmu.

Kau lihat ombak menggelora kesana-kemari, tanpa Laut, ombak itu takkan bergerak.

Kau lihat ombak itu dengan inderamu, dan Laut melalui kesimpulanmu: pemikiran tersembunyi, sedangkan perkataan berwujud.

Kita melihat akibat sebagai pengukuhan: mata kita hanya melihat hal yang tak memiliki eksistensi sendiri.

Mata lahiriah ini hanya melihat secara terbatas, bagaikan dalam keadaan tidur, tak dilihatnya apa pun kecuali fatamorgana dan yang lemah eksistensinya.

Jadilah kita berkubang dalam kesalahan, karena Realitas Sejati tersembunyi, sementara fatamorgana tampak jelas.

Sungguh mengherankan mengapa Rabb mengatur sedemikian: yang realitasnya nisbi tampil jelas, sementara Realitas Sejati tersembunyi dari pandangan.

Segala puji untuk-Mu, wahai Yang Maha Menganyam ciptaan, yang bagaikan sihir: membuat buih tampak bagaikan anggur murni bagi mereka yang berpaling dari Realitas Sejati.

Para penyihir zaman dulu mengukur sinar bulan dihadapan pedagang, yang menukar hasilnya dengan emas.

Dengan tipuan seperti itu penyihir dapat untung: emas beralih dari tangan pembeli, tapi tak ada benang emas yang didapat.

Dunia ini adalah seorang penyihir, dan engkau bagaikan pedagang, yang membeli potongan sinar bulan.

Bagai penyihir sakti, dengan cepat diukurnya sinar bulan sepanjang tujuh ratus meter, dan disodorkan seharga sutra emas.

Tetapi ketika telah ditukar dengan emas, yaitu umurmu di dunia; wahai makhluk malang: tak ada sutra emas kau dapat, sementara emas telah hilang, dompetmu telah kosong.

Selayaknya engkau rintihkan sambil menangis: "Katakanlah, aku berlindung,"[1] dan bermohon, "Wahai yang Ahad, selamatkan aku dari wanita-wanita tukang sihir dan buhul-buhul tali mereka.[2]

Para penyihir itu memantrai buhul, wahai Maha Penolong, selamatkan aku dari penaklukan dan kungkungan alam dunia ini."

Tapi, jika berpengetahuan, engkau juga akan berdo'a pada-Nya dengan lisan amal, karena lisan kata-kata itu lemah adanya.

Melintasi alam-dunia ini engkau disertai tiga kawan: yang satu setia, sementara dua lainnya pengkhianat.

Dua penipu itu adalah teman-teman, serta harta-benda dan milikmu; sedangkan yang ke tiga, satu-satunya sahabat yang setia padamu adalah kesalehan dalam amalmu.

Hartamu takkan mau mengiringimu keluar dari kastilmu; teman-temanmu mengantar sebatas kuburmu.

Ketika ajal datang menjemputmu, teman-temanmu akan berbicara jujur dalam hati mereka: "Kuantar sampai disini: takkan kutemani engkau lebih jauh lagi, kan kutemani engkau sejenak di sisi kuburmu."

Hanya amalmu yang akan setia: jadikan mereka pelindungmu, karena hanya mereka yang menyertaimu ke kedalaman kuburmu.

Karena itu, Mustapha yang bijak mengajari, "Dalam menempuh Jalan ini tiada kawan yang lebih setia daripada amal-amalmu.

Jika mereka shaleh, maka mereka akan menjadi sahabat karibmu seterusnya, dan jika mereka jahat, mereka akan menjadi ular dalam kuburmu."

Wahai makhluk yang lemah, dapatkan seseorang menemukan amalnya dan mendapat nafkah dalam Jalan Kebenaran tanpa seorang pembimbing?

Cara mencari nafkah paling sulit di alam-dunia ini, apakah bisa dikuasai tanpa bimbingan seorang Guru?

Itu dimulai dengan pengetahuan yang bermanfaat, lalu diikuti dengan amal, sehingga dapat berbuah sesuai masanya, atau setelah ajal.

Jika engkau berakal, akan kau cari pertolongan agar kau kuasai ketrampilan itu, dari ahli yang tepat dan murah-hati.

Carilah mutiara dari kerang tertentu, dan carilah keahlian dari sang empunya.

Jika kau temui pembimbing olah jiwa yang tulus, berakhlak lah yang baik serta bersemangat.

Jika ada ahli menyamak kulit, yang bekerja sambil berpakaian seperlunya, itu tak mengurangi penguasaan keahlian sang tukang.

Jika ada tukang besi yang empu, bekerja mengipas tanurnya, dengan baju kerja yang robek, reputasinya dimata pembeli tidaklah koyak.

Tanggalkan takabur dari tubuhmu: tiada yang pantas dipakai seorang pencari kecuali pakaian rendah-hati.

Catatan:
[1] QS Al Falaq [113]: 1.

[2] QS Al Falaq [113]: 4.

Selanjutnya Matsnavi berlanjut ke bagian yang diterjemahkan sebagai "Tanggalkan Jubah Takabur,"

Sumber:
Jalaluddin Rumi: Matsnavi V: 1026-1061
Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.


Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post