Dikembalikan Serendah Rendahnya Keadaan Puisi Jalaluddin Rumi

 



Dikembalikan Serendah Rendahnya Keadaan

Keindahan, yang diwarisi manusia dari Adam, yang kepadanya para malaikat bersujud, segera luruh, bagaikan jatuhnya Adam dari al-Jannah.


Keindahan menjerit: "Mengapa? Setelah aku cemerlang, kini memburam?"


Dia menjawab: "Salahmu adalah karena engkau hidup terlalu lama."


Jibril menyeretnya, seraya berkata: "Pergilah dari al-Jannah ini, enyahlah engkau dari majelis indah ini."


Ia bertanya: "Apa gerangan maksud dari direndahkan setelah aku sebelumnya dimuliakan?"[1]


Jibril menjawab: "Dimuliakannya engkau adalah sebuah pemberian dari-Nya, sedangkan rendahnya engkau kini adalah penghakiman-Nya atas nilai sebenarnya dirimu."


Ia menjerit: "Wahai Jibril, bukankah telah bersujud engkau[2] sebelumnya, dengan sepenuh dirimu, mengapa sekarang kau usir aku dari al-Jannah?"


"Jubahku tanggal,[3] ketika guncangan ini menimpaku, bagai daun kurma rontok di musim gugur."


Wajah cerah berseri bak rembulan, jadi keriput bagaikan punggung kadal gurun, ketika usia lanjut menyapa.


Kepala indah bermahkotakan rambut cemerlang, berubah jadi botak, dan buruk dipandang, ketika datang masa tua.


Sosok yang menawan, lurus-tegap bagai tombak pemecah barisan musuh, kini bungkuk, melengkung bagai busur.


Pipi yang memerah-sehat, kini pucat bagai satin; yang ketika muda sekuat singa, kini lunglai-lemah bagai tak bertulang.


Yang lengannya dulu keras memiting lawan, kini harus dipapah ketika bangun.


Inilah tanda-tanda nyata dari datangnya sakit dan lapuk: para utusan Sang Maut.


Jika yang menjadi tabib adalah Cahaya-Nya, tiada kehilangan atau pukulan mematikan dari usia lanjut dan penyakit.


Kelemahannya adalah kelemahan dari makhluk yang tengah terpesona; karena dalam kelemahannya itu, dia membuat iri pahlawan seperti Rustam.[4]


Jika dia diwafatkan, tulang-belulangnya direndam dalam ramuan cita-rasa keruhanian, sehingga setiap zarahnya melayang dalam berkas cahaya kasih-sayang.


Sedangkan mereka yang tak mendapatkan Cahaya itu, bagaikan kebun tak berbuah yang akhirnya dirontokkan musim gugur.


Tiada lagi kelopak mawar di taman, hanya duri yang tertinggal, pucat, gelap, bagaikan onggokan jerami.


Yaa Rabb, sungguh mengherankan, kesalahan apa yang dibuatnya, sehingga jubah indahnya ditanggalkan?


"Ia memandang tinggi dirinya-sendiri, dan itu adalah racun yang mematikan. Waspadalah engkau, wahai makhluk yang ditempatkan disini untuk diuji."[5]


Catatan:

[1] Ini merupakan penggalan ujaran Maulana Rumi tentang QS at-Tin [95]: 4-5, "Sungguh Kami telah menciptakan insan dalam sebaik-baik bentuk. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya;"


dan QS al Hajj [22]: 5, "... dan diantara kamu ada yang dipanjangkan umurnya sampai pikun sehingga tidak mengetahui sesuatupun dari apa-apa yang semula diketahuinya..."


[2] "... maka sujudlah mereka ..." (QS al Baqarah [2]: 34).


[3] Jubah ketakwaan, "... pakaian takwa ..." (QS al A'Raaf [7]: 26) yang seyogyanya membungkus jiwa (nafs). "... ia menanggalkan dari keduanya pakaian mereka..." (QS al A'Raaf [7]: 27) merekam dampak dari godaan iblis atas sepasang nenek-moyang kita.


[4] Pahlawan Kerajaan Persia.


[5] "Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia mengujimu siapa diantaramu yang lebih baik amalnya. Dan Dia al-'Aziiz, al-Ghafuur." (QS al Mulk [67]: 2).


Penjelasan Maulana Rumi lalu berlanjut ke bagian yang diterjemahkan sebagai Pantulan Cahaya Yang Mempesonamu


Sumber:

Jalaluddin Rumi, Matsnavi V 961-980

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Posting Komentar

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Komentar (0)

Lebih baru Lebih lama