Mereka Yang Merendahkan Pandangannya Puisi Jalaluddin Rumi

 

Pengalaman ruhaniyah itu bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, mereka tak menampakkan diri kecuali kepada pemiliknya.[1]

Anggur yang membawa kepada pengalaman itu,[2] bagaikan para bidadari yang merendahkan pandangannya, sementara wahana-wahana yang menghijabnya dari penglihatan bagaikan tenda-tenda[1]

Sungai-besar itu bagaikan tenda,[3] di dalamnya terdapat kehidupan bagi unggas-air, dan kematian bagi burung gagak.

Racun itu bagai gula-gula bagi ular tapi penderitaan dan kematian bagi yang lain.

Bentuk dari setiap keberuntungan dan bencana itu bagaikan surga bagi seseorang atau neraka bagi orang lain.

Karena itu, sungguhpun kau tatap berbagai bentuk dan benda, dan terdapat hidangan atau racun di dalam semua ciptaan itu-- kau tidak melihatnya.

Setiap orang itu bagaikan cangkir atau cawan, di dalamnya terdapat makanan bergizi dan hal yang membawa terbakarnya hati.

Wadahnya jelas nampak, hidangan di dalamnya tersembunyi; hanya mereka yang pernah mencicipi tahu bagaimana cita-rasanya.

Catatan:

[1] "Huurum-maqshura'tuun fiil-khiyam," diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan "bidadari jelita, bersih, di dalam tenda." (QS Ar-Rahmaan [55]: 72)

Mereka yang hanya Allah perlihatkan kepada hamba terkasih-Nya; yang untuk sang hamba itu mereka diciptakan. Para bidadari itu tersembunyi, Allah bentangkan hijab yang melindungi mereka dari penglihatan makhluk lain.

[2] Yang dimaksud disini tentunya bukan anggur fisikal yang dilarang Syariah, melainkan sejenis pengetahuan, kesadaran, pengenalan, yang diberikan seorang Guru Sejati; sedemikian rupa, sehingga seorang penempuh jalan taubat terbantu memasuki situasi lebur-musnah dari dirinya sendiri. Saat seperti itu, raganya menjadi hijab yang menutupi, sehingga kondisi leburnya itu tidak diketahui makhluk lain.

[3] Diri sang penempuh jalan taubat itu bagaikan sebutir air, yang ketika disucikan mulai bergerak mencari jalan kembali. Seiring pensucian dan pelapangan hatinya, dia akan mendapati, di kanan kirinya butir-butir air lain, yang bersatu, membesar, membentuk aliran air, semakin deras mencari jalan kembali. "Sungai" adalah jalan besar untuk kembali ke "Laut".

Butiran air di dalam Sungai berada dalam habitat yang tepat; unggas-air atau diri sang pencari di dalam kehidupan pertaubatan dengan segala ketetapan dan ukuran-Nya. Gagak, sering Rumi gunakan sebagai simbol pencinta-dunia, yang ketajaman hawa-nafsunya mencungkil dan membutakan "mata Akal Sejatinya," sehingga tiada sesuatu pun yang nampak baginya, kecuali kepentingan duniawinya.

Sumber:

Jalaluddin Rumi: Matsnavi V: 3292-99

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post