Sebuah Do'a Pemberian Mu Puisi Jalaluddin Rumi

 

Wahai Rabb, sungguh Rahmat-Mu tercurah bukan karena amal kami, tapi karena limpahan-Mu yang penuh rahasia.[1]

Genggam lah ke dua tangan kami, selamatkan kami dari apa-apa yang ke dua tangan kami telah lakukan; angkat lah hijab kami kepada-Mu, dan jaga lah hijab kami agar tak robek, itu akan mempermalukan kami.[2]

Selamatkan kami dari keakuan diri; tajamnya bagai ujung pisau yang menusuk ke tulang kami.

Wahai Sang Raja, yang tak bermahkota, tak bertahta, siapa kah yang dapat lepaskan rantai pengikat ini,[3] dari diri kami yang tak berdaya?

Siapa kah yang se-Pemurah Engkau, wahai Maha Pengasih, yang dapat membebaskan kami dari penjara sekuat ini?[4]

Palingkan lah wajah kami dari menghadap ke diri sendiri menjadi menghadap kepada-Mu; karena sesungguhnya Engkau lebih dekat kepada Kami daripada diri kami sendiri.[5]

Bahkan do'a ini pemberian-Mu kepada kami.

Bagaimana mungkin sebuah taman mawar tumbuh dari abu ini?

Hanya dengan melalui kemurahan-Mu, pengertian dan pemahaman dapat disampaikan kepada sosok yang terbentuk dari darah dan daging.

Sehingga melalui sepasang mata terpancar gelombang cahaya yang dapat menjangkau langit.

Melalui sepotong lidah dapat mengalir kata-kata penuh hikmah, laksana aliran sungai.

Melalui sepasang telinga dapat tertangkap kabar tentang sebuah taman bagi jiwa yang ber-akal; penuh dengan buah-buahan kecerdasan.

(Bawa kami ke) perjamuan utama berupa jalan raya menuju taman bagi jiwa-jiwa; kebun dan taman di alam-dunia ini adalah cabang dan bayangannya.

Itu lah mata air sumber kebahagiaan sejati: mari lah kita men-dzikir-kan ayat, "taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..."[6]

Catatan:

[1] "Katakan lah, bersama dengan fadhillah Allah dan bersama dengan rahmat-Nya, hendak lah bersama dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan." (QS Yunus [10]: 58); "Apa-apa yang di sisimu lenyap, dan apa-apa yang di sisi Allah kekal..." (QS An Nahl [16]: 96)

[2] "Diantara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya adalah kurangnya rasa harap di sisi wujud yang zalal."

Rasa harap, kepada rahmat-Nya. wujud yang zalal, berarti alam semesta, yang fanin, ciptaan. (Ibn Atha' Allah al-Iskandari: al-Hikam, bahasan #1, terjemahan oleh Zamzam AJT, 2012).

[3] Tentang rantai, lihat puisi yang berjudul: Terbelenggu Rantai Tak Terlihat

[4] Penjara keber-ada-an.

[5] "... Kami lebih dekat kepadanya daripada urat-lehernya." (QS Qaaf [50]: 16)

[6] Tentang "jannah," terdapat dalam banyak ayat.

Sumber:

Jalaluddin Rumi, Matsnavi II: 2443-2455

Terjemahan ke Bahasa Inggris oleh Nicholson. Dibantu dengan terjemahan oleh Kabir Helminski.

Untuk Informasi lebih lanjut silahkan hubungi no yg tertera di atas

Previous Post Next Post